Teheran, Harian Umum - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Teheran belum melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat dan menolak klaim bahwa Republik Islam telah menyetujui proposal Washington,.
"Baqaei menilai setiap pernyataan (Presiden AS Donald Trump) tersebut sebagai tidak berdasar," kata Tasnim News Agency dikutip Selasa (31/3/2026).
Dalam pernyataanrnya saat konferensi pers mingguan pada Senin (30/3/2026) waktu Timur Tengah, Baqaei menanggapi klaim Trump bahwa Iran telah menerima proposal AS tentang penghentian perang. Ia menegaskan kembali bahwa posisi Iran konsisten sejak awal, menolak tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal yang disampaikan melalui perantara.
"Baqaei menyatakan bahwa Iran belum melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat hingga saat ini," imbuh Tasnim.
Baqaei menjelaskan, yang telah dibahas oleh pemerintah Iran adalah pesan-pesan dari Washington yang diterima melalui perantara, yang menunjukkan keinginan AS untuk berdialog. Ia mengakui, bahwa setiap kali AS berbicara tentang diplomasi, hal itu harus dicurigai oleh pemerintah Iran.
Baqaei mencatat bahwa tidak jelas berapa banyak orang di AS yang menganggap serius klaim diplomasi mereka sendiri, padahal pendirian Iran jelas dan tidak berubah seperti posisi AS.
"Iran selalu mengetahui kerangka kerja yang diinginkan AS, karena proposal yang disampaikan dinilai berlebihan dan tidak masuk akal," kata Tasnim mengutip Baqaei.
Mengenai pertemuan AS dengan Pakistan, Baqaei menjelaskan bahwa pertemuan tersebut terjadi di bawah kerangka kerja yang ditetapkan oleh Pakistan sendiri, dan Iran bukanlah peserta.
Meskipun pertemuan itu positif, karena menunjukkan bahwa negara-negara regional prihatin dan ingin perang diakhiri, Baqaei menegaskan bahwa agresor (AS dan Israel, red) harus menyadari bahwa Iran tidak dapat diharapkan untuk menahan diri secara sepihak, karena Iran adalah pihak yang diserang, bukan inisiator yang memicu perang ini.
Soal klaim Trump bahwa Iran menyetujui proposal AS, Baqaei mengatakan bahwa pejabat AS boleh berbicara tentang apa pun yang mereka inginkan, tetapi Iran tidak pernah melakukan negosiasi dengan AS.
"Satu-satunya kontak adalah permintaan untuk pembicaraan dari AS yang disampaikan melalui negara ketiga," tambahnya.
Baqaei sekali lagi mengatakan bahwa posisi Iran jelas: karena agresi AS dan Israel terus berlanjut, upaya Iran tetap fokus pada pembelaan diri.
Ia menyimpulkan bahwa klaim AS tersebut tidak kredibel, apalagi karena Iran sebelumnya telah pernah dikhianati ketika negosiasi masih langsung.
Seperti diketahui, AS dan Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Saat serangan dilakukan, AS dan Iran sebenarnya masih dalam tahap negosiasi soal program nuklir, dan celakanya serangan itu didasarkan tuduhan AS bahwa Iran memiliki senjata nuklir, padahal yang punya senjata itu adalah Israel.
Misi AS dan Israel menyerang Iran adalah untuk mengganti rezim Revolusi Iran yang saat ini sedang berkuasa, dengan pemerintahan proxy yang dapat diatur dan dikendalikan oleh AS dan Israel. Bahkan AS diduga di balik demo anti pemerintah Iran pada Desember 2028 yang menewaskan ratusan orang
Yang membuat Iran semakin marah dan tak mau berdamai dengan AS dan Israel adalah serangan AS-Israel pada tanggal 28 Februari tidak hanya menewaskan Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, tapi juga puluhan pejabat lmIran lainnya.
Selama perang berlangsung hingga hari ini, jumlah petinggi Iran yang ditewaskan AS dan Iran terus bertambah. Terakhir yang ditewaskan adalah Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Muda Alireza Tangsiri. (man)







