Jakarta, Harian Umum - Aktivis Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) yang didominasi emak-emak berpakaian tradisional kebaya, Selasa (21/4/2026), menggeruduk gedung DPR RI, Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Namun, mereka kecewa karena alih-alih diterima dengan baik karena mereka datang juga untuk menyampaikan surat aspirasi terkait Hari Kartini, petugas pengamanan DPR justru langsung menutup Gerbang Pancasila yang merupakan salah satu pintu masuk dan keluar dariDPR yang menghadap langsung ke Jalan Gelora, Jakarta Pusat.
"Buka woy, buka! Sama emak-emak saja takut, sehingga pintu gerbang ditutup," teriak seorang dari mereka.
Para emak-emak yang berjumlah belasan orang itu datang sekitar pukul 14:00 WIB, saat sinar Matahari masih sangat terik. Awalnya, mereka berkumpul di Halte Palmerah, dan kemudian lingmarch ke Gerbang Pancasila sambil membawa spanduk dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Longmarch itu dipimpin Presiden ARM Menuk Wulandari.
Di poster-poster yang mereka bawa antara lain bertuliskan "Perempuan Garda Terakhir Penjaga Kedaulatan Negeri", "Kami Ingin Indonesia Besar, Bukan Besar Bo'ong Doang", dan "Untuk Para Kartini yang di Dalam Gedung DPR, Saatnya Buka Mata dan Telinga".
Mereka juga membawa sebuah spanduk besar dengan gambar lingkaran dan garis melintang di dalamnya Gambar itu berwarna merah dan terdapat tulisan "DISEGEL" pada garis melintang itu.
"Spanduk penyegelan" itu dipasang di salah satu Gerbang Pancasila yang ditutup.
"Kami datang ke sini bukan untuk mengemis, karena kami juga punya uang banyak! Kami datang untuk menyampaikan aspirasi dan menyerahkan surat yang berisi aspirasi kami terkait Hari Kartini, tapi mengapa gerbangnya ditutup?" kata Menuk yang memimpin orasi.
Mereka berorai hingga menjelang pukul 16:40 WIB, akan tetapi petugas DPR tetap tak mau membukakan pintu, sehingga sejumlah mobil yang datang dan ingin masuk ke DPR, terpaksa pergi lagi dengan terpaksa karena melihat gerbang ditutup.
Tak hanya berorasi, aktivis ARM bernama Susiana dan Tita, membacakan puisi terkait Hari Kartini dan kondisi bangsa saat ini
"Ini rumah rakyat, DPR digaji oleh rakyat, seharusnya ketika kami datang, terima dengan baik, bukan malah ditutup pintunya!" protes Menu lagi.
Para emak-emak itu sempat menyanyikan lagu Ibu Kartini, dan lagu-lagu perjuangan. Kedatangan mereka ini tak hanya mengejutkan petugas pengamanan DPR yang langsung menutup Gerbang Pancasila, tapi juga membuat polisi pontang-panting melakukan pengamanan.
Menuk mengatakan, isi surat yang akan disampaikan kepada DPR bertujuan untuk membuat para anggota DPR bekerja dengan baik, karena mereka digaji oleh rakyat.
"Selama ini, jujur saja, kami merasa seperti tidak punya wakil rakyat, karena aspirasi kami tidak didengar, yang didengar adalah oligarki," katanya.
Karena Gerbang Pancasila tak kunjung dibuka, akhirnya Menuk meminta Tita, Presidium ARM yang lain, juga seorang aktivis ARM yang lain agar memberikan surat yang mereka bawa melalui gerbang di mana penerima tamu untuk DPR berada.
Perlu waktu lebih dari 30 menit bagi Tita untuk menyerahkan surat itu, mendapat tanda terima, dan kembali ke.lokasi aksi.
"Katanya anggota DPR lagi reses, kami merasa kok reses melulu," gerutu dia.
Aksi berakhir setelah ARM memberikan keterangan pers terkait aksinya ini (rhm


