Teheran, Harian Umum - Serangan Angkatan Laut AS terhadap Kapal Touska dan penyitaan terhadap kapal kargo Iran itu, Minggu (19/4/2026), menjadi bumerang bagi AS, karena Iran menunjukkan gelagat takkan mau lagi berunding dengannya.
Dalam konferensi pers Senin (20/4/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa Iran belum mengambil keputusan untuk berpartisipasi dalam putaran kedua negosiasi yang dimediasi Pakistan dengan AS di Islamabad, dengan alasan tindakan Washington yang kontradiktif.
“Sejauh ini, kami belum mengambil keputusan apa pun mengenai putaran negosiasi berikutnya," katanya dikutip dari Tasnim News Agency.
Ia mengkritik AS karena melakukan tindakan yang bertentangan dengan klaimnya untuk mengejar diplomasi dengan menyerang dan menyita kapal Touska yang sedang berlayar dari China menuju Iran, dan sedang berada di Laut Oman, Minggu (19/6/2026).
Namun, Baqaei mengakui kalau sejak awal gencatan senjata, Iran telah menghadapi “itikad buruk dan keluhan terus-menerus” dari Washington.
AS, jelas dia, awalnya mengklaim bahwa Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata, meskipun Pakistan secara eksplisit menyatakan sebaliknya. Bahkan setelah kesepakatan tercapai, Iran menghadapi “tindakan maritim di Selat Hormuz,” termasuk serangan AS terhadap kapal dagang Iran pada Minggu malam, yang ia gambarkan sebagai pelanggaran gencatan senjata dan “tindakan agresi".
Baqaei mengingatkan bahwa perilaku AS tidak sejalan dengan retorikanya, dan mengatakan bahwa inkonsistensi tersebut hanya memperdalam ketidakpercayaan Iran terhadap seluruh proses untuk negosiasi.
“Iran akan mengambil keputusan yang diperlukan mengenai jalan ke depan dengan mempertimbangkan kepentingan nasionalnya secara cermat,” tegasnya.
Menanggapi pendekatan Washington terhadap negosiasi dan kemungkinan serangan lebih lanjut, Baqae mengatakan, Iran tidak dapat mengabaikan “pengalaman yang sangat mahal” tahun lalu, dan mengingatkan bahwa AS telah dua kali “mengkhianati diplomasi” dengan Iran, dan melakukan serangan terhadap kedaulatan dan aset Iran.
“Semua komponen Iran memantau dengan waspada setiap proses,” Baqaei mengingatkan sekali lagi.
Ia menambahkan bahwa bahkan dalam jalur diplomatik, Iran harus tetap waspada terhadap rencana musuh.
Seperti diketahui, melalui Pakistan, AS mengatakan ingin kembali berunding dengan Iran setelah perundingan yang gagal pada 11 April lalu, meskipun setelah perundingan gagal itu, AS memblokade arus maritim Iran, membuat Iran meradang, dan disusul dengan serangan ke kapal Touska.
Perundingan 11 April gagal karena Iran menilai AS mengajukan permintaan yang berlebihan, di antaranya meminta Selat Hormuz dibuka penuh, dan Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
Semua persoalan ini muncul setelah AS bersama Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari dengan tujuan menggulingkan rezim Revolusi Iran yang saat ini berkuasa. (man)







