Jakarta, Harian Umum - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mengungkap fakta mengejutkan terkait ajaran akhlak dalam Islam yang ternyata justru dipraktikkan masyarakat Jepang yang notabene merupakan non Muslim.
Hal itu ia sampaikan saat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) IV Pimpinan Pusat Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid, Dewan Masjid Indonesia (BKMM-DMI) di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
'Saya sampaikan kemarin di masyarakat Indonesia di jepang; kita ini beragama Islam, kita diajarkan akhlak yang baik, tapi akhlak itu yang praktikkan orang jepang," kata Jusuf Kalla.
Ketum DMI yang akrab disapa JK dan merupakan mantan wakil presiden ini menyebutkan akhlak Muslim apa saja yang dipraktikkan di Jepang, yakni kejujuran, disiplin, kebersihan, dan hormat kepada orangtua.
"Kita tiap kali hanya berceramah tentang (akhlak) itu, yang melaksanakannya orang Jepang," tegas dia.
JK mengambil salah satu contoh bagaimana akhlak Islam dipraktikkan di Jepang.
"Supermarket (di Jepang) tidak ada yang jaga, (pembeli) ambil apa saja, (lalu) pergi ke kasir, di kasir tidak ada orang, hanya ada cara untuk bayar sendiri. Saya bilang, kalau di Indonesia, habis ini isinya supermarket (karena dicuri)," katanya.
JK pun mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadikan akhlak sebagai materi untuk berceramah, akan tetapi juga melaksanakannya.
Dalam sambutannya itu, JK juga menganjurkan BKMM-DMI tidak hanya fokus pada pengajian, tapi juga peduli pada masalah ekonomi, karena kata dia, saat ini ekonomi umat Islam tidak sejajar dengan masyarakat yang lain, seperti misalnya dengan masyarakat Tionghoa.
"(BKMM-DMI) butuh suatu kegiatan, karena semuanya membutuhkan pertumbuhan. Jadi, majelis taklim selain.pengajian, harus ada kursus atau pertemuan tentang bagaimana memajukan kuliner, bagaimana membikin kerajinan yang baik, bagaimana melakukan kegiatan ekonomi yang baik, ini harus," kata dia.
JK menegaskan, jika umat Islam tidak maju dalam.sektor ekonomi, siapa yang membikin sekolah? Siapa yang membikin masjid? Siapa yang menyantuni anak yatim?
"Itu dibutuhkan pertumbuhan," tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muchlis Muhammad Hanafi, yang hadir dalam Munas IV BKMM-DMI, mengatakan mendukung pernyataan JK.
'Saya 100 persen setuju, mendukung. Yang pertama, ungkapan Beliau bahwa justru yang menerapkan Islam itu di negara-negara non.muslim, ini sebenarnya ungkapan yang pernah disampaikan dulu oleh tokoh reformis muslim.asal Mesir. Muhammad Abduh," katanya.
Ia menjelaskan, ketika Muhammad Abduh selesai berkunjung ke Perancis, dia memgatakan bahwa dirinya tidak mendapati orang Islam di Prancis, tapi Islam dia dapati di sana.
"Sementara di Mesir, negaranya Muhammad Abduh, kata Muhammad Abduh, orang Islam banyak, tapi nilai-nilai keislaman seakan tertutupi oleh perilaku umat Islam yang tidak terpuji," katanya.
Hanafi juga setuju dengan anjuran JK agar sekarang ini BKMM-DMI dalam berdakwah hendaknya tidak hanya terbatas pada ceramah-ceramah keagamaan, tapi bagaimana BKMM-DMI langsung memberikan layanan keagamaan yang. bersampak langsung ke masyarakat.
"Jadi, dakwah itu tidak ceramah melulu, tapi dalam bentuk kerja kerja konkerit bagaimana kita mengentaskan kemiskinan, bagaimana kita memajukan pendidikan umat, memajukan bangsa dan lain sebagainya. Saya pikir ini buah pandangan yang patut kita dukung dan perlu kita implementasikan," pungkas dia. (man)





