Jakarta, Harian Umum- Gerakan #2018GantiPresiden tak henti-hentinya diserang dan didiskreditkan, untuk melemahkan gerakan dengan target mendapatkan presiden baru pengganti Presiden Jokowi melalui Pilpres 2019 itu.
Setelah rumah penggagas gerakan itu, Mardani Ali Sera, dilempari bom molotov, mobil Neno Warisman dibakar dan Neno juga dipersekusi saat mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, karena akan mendeklarasikan gerakan #2019GantiPresiden, dan terakhir MUI melarang gerakan #2019GantiPresiden dideklarasikan di Jawa Barat, kini gerakan itu diserang fitnah melalui buletin yang agaknya sengaja didesain agar terkesan diterbitkan oleh sebuah lembaga Islam.
Informasi yang dihimpun, Sabtu (4/8/2018), buletin yang menyebarkan fitnah tersebut bernama Buletin Dakwah Al Mustaqbal.
Sebagaimana tersebar di media sosial Twitter, edisi 005 Agustus 2018 buletin itu menyajikan judul Waspadai Gerakan Ganti Presiden=Ganti NKRI dengan Khilafah.
Mardani Ali Sera dan ulama yang terlibat gerakan ini langsung bereaksi.
"Ini selebaran fitnah keji. Tidak benar bahwa #2019GantiPresiden ingin mengganti sistem negara kita. Sejak awal kami sudan menegaskan bahwa #2019GantiPresiden selalu dalam koridor konstitusional, dalam bingkai NKRI, Pancasila dan UUD'45," kata Mardani melalui akun Twitternya, @MardaniAliSera, Sabtu (4/8/2018).
Ulama yang bereaksi di antaranya Ustad Haikal Hasan Baras.
"Awas! Fitnah mulai disebar. Ingat, gerakan #2019GantiPresiden adalah untuk jayakan Pancasila dan UUD'46 serta untuk pulihkan kedaulatan rakyat, kedaulatan pangan,, kedaulatan wilayah dalam bingkai NKRI yang kuat dan berwibawa," katanya melalui akun @Haikal_Hasan.
Screenshot buletin dakwah itu antara lain disebarkan akun @seno8aji yang dikenal sebagai pendukung Presiden Jokowi dan mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
"WaspadaGerakan #2019GantiPresiden si @mardaniAliSera karena akan ganti NKRI dengan khilafah. Waspadalah waspadalah," katanya dengan melampirkan screenshot buletin tersebut.
Kicauan ini ditanggapi akun @c_coplax dengan melaporkannga ke akun Polri.
"@DivHumas_Polri tolong ditindak penyebar fitnah dan pemecah belah persatuan bangsa Indonesia si @seno8aji," katanya.
Kemarahan akun itu didukung akun @DwniFaisal20.
"Seno keji pandai memfitnah. Ternyata kau dungu yang gelisah," katanya.
Seno dibela akun @biasa_sajalah !
"Bagaimana disebut fitnah .... orang2 HTI berserakan di sana kok.... mau sok didzolimi .... huex!" katanya.
@c_coplax membalas dengan tak kalah pedas.
"Emang ada masalah apa dengan orang2 ex HTI? Mereka tidak memberontak, tidak pula membunuh, apalagi memfitnah ... yang mesti dikhawatirkan itu antek PKI yang bertebaran dimana-mana ...,Guob***!!!" katanya.
Sejumlah pengamat menilai, makin kerasnya serangan terhadap gerakan #2019GantiPresiden menunjukkan kalau kubu Presiden Jokowi semakin panik dan ketakutan kalau gerakan ini akan membuat sang Presiden rontok di Pilpres 2019, karena mereka ingin Jokowi menjadi presiden lagi hingga 2024.
Tokoh yang mengatakan demikian di antaranya anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212, Eggi Sudjana.
"Itu tandanya Gerakan 2019GantiPresiden membuat panik pihaknya Jokowi. Kepanikannya itu tidak terukur lagi. Jadi buat ngaco-ngaco, berperilaku intoleran dan berlaku tidak demokratis," ujar Eggi usai acara Ijtima Ulama di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Minggu (29/7/2018). (rhm)







