Teheran, Harian Umum - Eskalasi ketegangan di kawasan Teluk makin mendidih karena Amerika Serikat (AS) memblokade arus maritim Iran setelah gagal meminta uranium yang telah diperkaya dari negara itu, dan gagal pula meminta Selat Hormuz dibuka pada perundingan di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).
Indikasi peningkatan eskalasi ke tingkat didih itu terlihat dari pernyataan Mayor Jenderal Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, yang dirilis hari ini, Rabu (15/4/2026).
Ia mengatakan, blokade itu akan dibalas dengan mencegah proses ekspor impor dari dan ke Teluk Persia, Laut Oman dan Laut Merah.
"Jika AS yang agresif dan teroris terus melakukan tindakan ilegal dalam memberlakukan blokade maritim di kawasan ini dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran, tindakan AS ini akan menjadi pendahulu pelanggaran gencatan senjata, dan Angkatan Bersenjata Iran yang kuat tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun di wilayah Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah untuk berlanjut," kata Abdollahi dikutip dari Tasnim News Agency.
"Iran akan mengambil tindakan tegas untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya," tegas dia
Seperti diketahui, AS dan Israel yang menjadi pemicu perang dengan Iran, karena menyerang negara itu pada 28 Februari untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dan menggantinya dengan pemerintahan boneka, babak belur karena kekuatan militer Iran ternyata jauh di luar perkiraan mereka, sehingga kota-kota dan lokasi-lokasi penting serta strategis di Israel luluh lantak, begitupun aset-aset dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Tak hanya itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu krisis energi di seluruh dunia, termasuk di AS di mana di negara itu harga bensin telah melejit dari $ 3 per galon meroket hingga sempat menembus $ 8 per galon.
AS lalu sepakat melakukan gencatan senjata dengan Iran dengan perantara Pakistan, dan perundingan untuk gencatan itu digelar Sabtu (11/4/2026) di Islamabad, akan tetapi gagal karena Iran menilai permintaan AS tak masuk akal, karena antara lain meminta Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya, dan Iran membuka Selat Hormuz dengan tanpa syarat.
Kegagalan itu membuat Presiden AS Donald Trump mengamuk, dan memblokade laut Iran. Trump sempat meminta dukungan negara-negara sekutu AS yang tergabung di NATO, seperti Inggris dan Spanyol, tapi negara-negara itu menolak.
Blokade AS Tidak Efektif
Al Mayadeen melaporkan, meski lautnya diblokade AS, kapal-kapal Iran tetap dapat melewati Selat Hormuz dan memasuki perairan sekitarnya.
"Kapal Iran bernama "Golbon", yang dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS, melintasi Selat Hormuz dan melanjutkan pelayarannya di dekat pintu masuk Teluk Oman," kata media itu.
Al Mayadeen juga melaporkan bahwa kapal kargo Iran bernama "Sea Champion" berhasil melintasi Selat Hormuz dan memasuki Laut Oman.
"Mengutip data pelacakan kapal independen, beberapa kapal Iran baru-baru ini juga telah melewati jalur air strategis tersebut," imbuh media itu.
Sementara itu, Kantor Berita Fars melaporkan bahwa sebuah kapal kontainer baru-baru ini menerobos "zona blokade" AS dan memasuki perairan internasional setelah melintasi Teluk. Laporan tersebut mengatakan data pelacakan satelit menunjukkan kapal tersebut beroperasi dengan sistem navigasinya aktif dan saat ini berlayar di dekat garis pantai Pakistan.
Fars selanjutnya melaporkan bahwa sebelumnya pada hari itu, sebuah kapal tanker minyak mentah super besar (VLCC) Iran, yang terdaftar di bawah sanksi Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC), memasuki perairan Iran setelah melewati Selat Hormuz.
Fars juga mengatakan bahwa sebuah kapal pengangkut barang curah yang membawa pasokan makanan kemudian berlabuh di Pelabuhan Imam Khomeini setelah melintasi Teluk Persia.
Pada Rabu (15/4/2026), sebuah kapal tanker minyak Iran juga berhasil melintasi Selat Hormuz. Kapal tanker tersebut, yang diidentifikasi sebagai "Alicia" dan dilaporkan berada di bawah sanksi AS, melewati jalur air strategis antara pulau Hormuz dan Larak tanpa menemui hambatan berarti.
"Tasnim mengatakan, kapal itu adalah kapal tanker Iran ketiga yang berhasil melintasi Selat Hormuz di bawah blokade AS, menandakan aktivitas maritim yang berkelanjutan meskipun ketegangan meningkat," kata Al Mayadeen.
Belum diketahui apa yang membuat kapal-kapal itu bisa keluar dari perairan Iran meski AS tengah memblokade perairan itu.
Namun, Al Mayadeen melaporkan bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa mereka telah memberlakukan "kontrol yang cerdas dan berwibawa" atas Selat Hormuz, sehingga navigasi melalui koridor vital tersebut tetap berada di bawah pengawasan dan peraturan Iran.
"Keberhasilan kapal tanker Iran melewati Selat Hormuz menggarisbawahi tantangan yang dihadapi Washington dalam upayanya memblokade perairan Iran," katanya (man)





