Jakarta, Harian Umum - Iran menanggapi dingin tindakan Amerika Serikat (AS) yang memblokade arus maritim dari dan ke pelabuhan-pelabuhan negaranya, yang berarti memblokade Selat Hormuz.
Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengatakan bahwa keputusan Trump untuk memblokade arus maritim Iran lebih sebagai tipuan daripada kenyataan.
"Jika Trump menerapkan blokade di Selat Hormuz, itu akan dianggap sebagai tindakan perang, dan kami akan menanggapinya," kata dia dikutip dari Al Mayadeen, Senin (13/4/2026).
Ia mengingatkan bahwa tindakan AS baru-baru ini terkait Selat Hormuz akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut dalam situasi yang sedang dihadapinya.
"Dan itu akan meningkatkan ketidakstabilan pasar," katanya.
Seperti diketahui, target utama Trump melakukan negosiasi dengan Iran adalah membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak serangan pertama AS dan Israel ke Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Penutupan itu membuat harga minyak dunia melonjak tajam hingga lebih $ 100 per barel dan memicu krisis energi di berbagai negara, termasuk AS.
Bahkan harga bensin di AS melonjak dari $ 3 per galon menjadi sempat menyentuh $ 8 per galon, sehingga masyarakat AS marah dan muncul gerakan untuk memakzukkan Trump, karena mereka juga tidak setuju pada perang yang dikobarkan Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamid Reza Haji Babaei, menyatakan bahwa dengan adanya Selat Hormuz, tidak ada negara yang dapat menjatuhkan sanksi kepada Iran".
"Selat Hormuz dan massa di jalanan adalah bom nuklir kami," katanya. (man)







