Jakarta, Harian Umum - Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyerang Lebanon.
Indikasi itu terlihat dari reaksi Iran atas serangan yang menewaskan 254 orang dan melukai 1.165 orang itu.
"Brigadir Jenderal Esmail Qaani, komandan Pasukan Quds Iran, mengutuk serangan Israel itu dan berjanji akan menuntut pertanggungjawaban para pelaku," kata Al Mayadeen, Kamis (9/4/2026).
Dalam pernyataannya, Qaani mengatakan bahwa Israel akan menghadapi "hukuman berat", dan Israel sebagai negara dengan sejarah penuh darah, pelaku kriminal, anti-kemanusiaan, dan pembunuhan orang-orang tak berdosa, termasuk perempuan dan anak-anak.
"Secara khusus, Qaani menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai orang yang lebih biadab dan berhati kejam melebihi tuannya, Amerika Serikat," imbuh Al Mayadeen.
Seperti diketahui, dalam perjanjian kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan AS antara lain disebutkan dihentikannya serangan, termasuk ke Lebanon. Namun, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Lebanon tidak masuk dalam perjanjian gencatan senjata, dan menyerangnya pada Rabu (8/4/2026).
Al Mayadeen melaporkan, Israel melakukan sekitar 150 serangan udara ke seluruh Lebanon, termasuk Beirut, pinggiran selatan Lebanon, Lebanon selatan, Lembah Bekas, dan Gunung Lebanon dengan target pemukiman penduduk dan insfratruktur sipil. Serangan itu dilakukan dalam waktu sekitar dua jam.
"Serangan itu menewaskan 254 lebih warga Lebanon, dan melukai lebih dari 1.165 orang lainnya berdasarkan dana Badan Pertahanan Sipil Lebanon," kata Al Mayadeen. (man)


