Morowali, Harian Umum - Ratusan Masyarakat Lingkar Tambang di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Senin (18/5/2026), menggeruduk kantor Polres Morowali untuk mendesak Polres agar segera mengungkap siapa pelaku pemalsuan, penipuan dan penggelapan dana tali asih milik Rakyat Lingkar Tambang beberapa desa di Kecamatan Bungku Barat.
Dana tali asih itu dikucurkan oleh PT Baoshuo Taman Industry Investment Group (BTIIG) sebagai ganti rugi jalan tani di Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, akan tetapi masyarakat desa tidak menerima penuh dana tersebut.
Dikutip dari keterangan tertulis Irwan B, koordinator lapangan Aliansi Topogaro Menggugat, Masyarakat Lingkar Tambang tiba di Polres Morowali sekitar pukul 10.00 WITA, sebagian besar datang dengan mengendarai sepeda motor.
"Dana tali asih itu telah dicairkan PT BTIIG beberapa bulan lalu sebesar Rp4 miliar. Ada bukti pencairannya, akan tetapi selain masyarakat tidak menerima penuh dana ganti rugi, juga ada informasi secara tertulis bahwa dana itu hanya kurang lebih Rp3 miliar," jelas Irwan.
Ia mengakui, perbedaan angka itu menimbulkan asumsi bahwa jangan-jangan dana tali asih itu telah digelapkan sebesar Rp1 miliar.
Masalah ini semakin panas ketika kemudian masyarakat mendapat informasi bahwa buku rekening dana tali asih itu dipegang oleh ASF, orang dekatnya Bupati Morowali.
"Masyarakat dalam hal ini merasa ditipu dengan dokumen yang diduga dipalsukan, sehingga melapor ke polisi," imbuh Irwan.
Laporan itu diketahui dilakukan pada 1 April 2026, dan diregistrasi Polres Morowali sebagai laporan polisi Nomor : LP/B/54/IV/2026/SPKT, Polres Morowali Polda Sulawesi Tengah.
Sejauh ini Polres Morowali telah memeriksa sekitar 10 saksi, sementara barang bukti yang diserahkan pelapor berupa dokumen pencairan dana tali asih dari PT BTIIG yang diduga dipalsukan oleh oknum yang konon juga melibatkan aparat desa.
"Kedatangan Masyarakat Lingkar Tambang hari ini ke Polres Morowali diterima perwakilan Polres, karena Kapolres maupun Kasat Reskrim tidak di tempat," imbuh Irwan.
Ia memastikan bahwa jika kasus ini tidak kunjung dituntaskan Polres Morowali, apalagi jika para pelaku, termasuk pelaku utamanya tidak diungkap dan ditangkap, masyarakat akan kembali dan kembali lagi ke Polres dengan jumlah massa yang jauh lebih besar.
"Tapi kita berharap pihak Polres dapat memenuhi aspirasi masyarakat dengan baik, karena jika tidak, ini akan menjadi preseden buruk bagi Polres Morowali sendiri," pungkas Irwan. (rhm)







