Jakarta, Harian Umum - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memperingatkan bahwa rezim Israel berupaya menjerumuskan negara-negara di Asia Barat (Timur Tengah) pada perang baru.
Peringatan itu disampaikan menyusul terungkapnya keterlibatan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam perang yang dikobarkan Israel dan AS terhadap Iran sejak 28 Februari 2026.
Keterlibatan negara-negara Teluk itu diduga diinisiasi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, karena selama perang berlangsung, Netanyahu diketahui bertemu Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
Dikutip dari Tasnim News Agency, Sabtu (16/5/2026), dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Afrika Selatan Ronald Lamola di sela-sela pertemuan menteri luar negeri BRICS hari kedua di New Delhi, India, Jumat (15/5/2026), Araqchi dan Lamola membahas tentang hubungan kedua negara, perkembangan regional, dan kerja sama multilateral.
Araqchi menyampaikan apresiasi atas posisi konstruktif dan positif Afrika Selatan terkait perang agresi 40 hari yang dilakukan oleh AS dan rezim Zionis terhadap Iran.
"Araqchi menyatakan bahwa selama konflik tersebut, Iran diserang saat masih bernegosiasi dengan AS tentang program nuklir, sementara pihak lawan menyatakan tujuannya adalah Republik Islam Iran menyerah tanpa syarat," kata Tasnim News Agency dikutip Sabtu (16/5/2026).
Namun, kata Araqchi, baik tujuan tersebut maupun tujuan lain, tidak tercapai, dan pihak lawan (AS) sejak minggu kedua perang meminta gencatan senjata.
Merujuk pada sikap Afrika Selatan yang mendukung rakyat Palestina, Araqchi mengatakan Benjamin Netanyahu adalah "penjahat perang" yang bertanggung jawab atas pembunuhan puluhan ribu orang di Gaza dan ribuan lainnya di Lebanon, serta bagian lain di kawasan Timur Tengah. Ia bahkan memperingatkan bahwa Perdana Menteri Israel itu masih berupaya untuk menjerumuskan negara-negara di Asia Barat ke dalam perang baru.
Menanggapi hal itu, Lamola yang menghadiri pelantikan Presiden Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa serangan AS dan Israel ke Iran yang membuat Iran menutup Selat Hormuz, berdampak pula terhadap negara-negara di Afrika, termasuk negaranya; Afrika Selatan, karena penutupan selat itu membuat pasokan energi, pupuk, dan barang-barang penting lainnya terganggu
"Lamola menyatakan harapan untuk kembalinya perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk dan menegaskan kembali dukungan kuat Afrika Selatan untuk jalur diplomatik dalam menyelesaikan perselisihan dan ketegangan internasional, terutama di Asia Barat," kata Tasnim. (man)







