Jakarta, Harian Umum- Politikus Partai Gerindra Sodik Mudjahid meminta kepolisian bersikap adil dalam menindak kelompok-kelompok penyebar hoax dan penyebar ujaran kebencian dengan tanpa pandang bulu.
"Saya minta Kapolri bersikap adil dan menangkap seluruh pengujar kebencian tanpa pilih-pilih, termasuk kelompok yang selama ini menjadi lawan tanding MCA," kata anggota Komisi VIII DPR RI itu melalui pesan singkat kepada wartawan, Kamis (1/3/2018).
Ia menambahkan, dengan memberantas penyebar kebencian dari semua golongan tanpa tebang, maka Kepolisian bakal tercatat dalam sejarah, dan langkah itu sekaligus dapat menghindarkan kepolisian dari kecurigaan masyarakat.
"Sekali lagi polisi harus adil agar tercatat dalam sejarah. Keadilan adalah dengan mengekspos dan menindak semua grup tidak pilih-pilih tanpa terkecuali," tegasnya.
Sodik mengaku prihatin dengan masih adanya kelompok yang diduga penyebar hoax menjelang gelaran Pilkada serentak 2018, serta Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ditsiber Bareskrim Mabes Polri menangkap enam orang yang tergabung dalam Muslim Cyber Army (MCA) karena diduga menyebarkan hoax.
Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan, para penyebar hoax berkedok MCA ini mirip dengan kelompok Saracen.
"Kalau di Saracen kan terstruktur organisasinya, kalau ini tidak ada struktur organisasinya, tapi mereka jelas berkelompok," katanya kepada wartawan, Selasa (27/2/2018).
Dari keterangan tertulis Dirtipid Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran diketahui, keenam orang yang ditangkap itu berinisial ML (40) yang ditangkap di Sunter, Jakarta Utara; RSD (35) yang ditangkap di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung; RS yang ditangkap di Jembrana, Bali; dan Yus yang ditangkap di Sumedang, Jawa Barat.
Dua tersangka lain ditangkap di Palu, Sulawesi Tengah, dan Yogyakarta, namun identitas keduanya belum diungkap.
Keenam orang ini merupakan anggota grup Whatsapp the Family MCA.
Penangkapan ini sempat dikritik warganet karena orang-orang yang selama ini rajin memproduksi hoax dan ujaran kebencian, seperti pemilik akun @digembok juga dibiarkan, hanya karena si pemilik akun merupakan pendukung Presiden Jokowi dan mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (rhm)







