Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah terpuruk terhadap dolar AS pada penutupan Rabu (22/4/2026).
Data Bloomberg menunjukkan, rupiah terkoreksi 0,22% atau 38 poin dari penutupan Selasa, dan berada di posisi Rp 17.181/dolar AS
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah sepanjang hari ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang kurang menguntungkan.
Di kancah global, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi beban utama yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
"Rupiah sepanjang sesi tertekan terhadap dolar AS, baik oleh faktor eksternal dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, hingga faktor domestik," ujar Lukman Leong dikutip dari Suara.com.
Dari sisi internal, pasar memberikan respons dingin terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) terbaru.
Meskipun BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%, langkah tersebut dinilai tidak memberikan kejutan atau dukungan tambahan yang kuat bagi otot rupiah.
Investor menyayangkan sikap Bank Indonesia yang dinilai hanya mengulangi retorika kebijakan yang sama tanpa adanya terobosan baru untuk menahan laju pelemahan nilai tukar.
"Ada kekecewaan investor terhadap hasil RDG BI yang tidak memberikan 'surprise' dukungan kepada rupiah. BI mempertahankan suku bunga dan hanya mengulangi retorika yang sama," tambah Lukman.
Ia memprediksi, rupiah masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan karena hingga saat ini belum ada rilis data ekonomi penting, baik dari instansi dalam negeri maupun mancanegara, yang mampu mengubah arah pergerakan pasar secara signifikan.
Kondisi minim sentimen ini diprediksi akan membuat rupiah terus bergerak di zona merah dalam jangka pendek. Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental saat ini. (man)







