Teheran, Harian Umum - Dua tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan puluhan lainnya terluka dalam empat serangan yang dilancarkan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Seorang tentara juga dikabarkan hilang dalam serangan ini.
"Dua tentara Amerika Serikat tewas, satu lainnya masih hilang, dan puluhan lainnya terluka setelah empat serangan Iran menargetkan posisi militer AS di Yordania dalam periode lima hari," demikian laporan The New York Times (NYT) dikutip dari Al Mayadeen, Minggu (19/6/2026).
Laporan itu juga menyebutkan, serangan pertama menghantam fasilitas perumahan di Pangkalan Udara King Faisal, melukai hingga lima anggota militer AS.
"Serangan kedua menargetkan pangkalan di Yordania timur tempat helikopter Black Hawk AS beroperasi, merusak sejumlah besar pesawat," kata para pejabat AS kepada NYT.
Empat puluh delapan jam sebelum serangan mematikan pada hari Jumat, rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Azraq, melukai sekitar 20 tentara AS saat mereka bergegas berlindung di bunker.
Iran kemudian menyerang pangkalan yang sama lagi pada hari Jumat, menewaskan dua tentara AS dan melukai empat tentara lainnya.
"Personel lainnya diperiksa karena luka ringan, sementara satu anggota militer AS masih hilang," kata para pejabat AS.
Secara keseluruhan, kata NYT, keempat serangan tersebut telah melukai puluhan personel AS dan menyebabkan kerusakan pada beberapa helikopter yang beroperasi dari pangkalan Yordania.
Iran diduga adaptasi operasi rudalnya
Dari laporan yang mengutip pejabat AS itu, diketahui bahwa kemampuan Iran melakukan serangan berulang menunjukkan bahwa negara itu tidak hanya mempertahankan persediaan rudal yang substansial, tetapi juga semakin efektif dalam menembus sistem pertahanan udara AS.
Penilaian inj selaras dengan laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip pejabat AS bahwa Iran telah mengadaptasi taktik rudalnya dengan menggunakan proyektil yang mampu bermanuver selama fase terminalnya, sehingga mempersulit pencegatan.
Menurut WSJ, pejabat AS menilai serangan terbaru Iran menunjukkan bahwa negara itu menggunakan rudal yang dapat mengubah lintasannya saat turun menuju target. Ini sekaligus meningkatkan kekhawatiran AS bahwa Iran mendaoat bantuan teknis dari eksternal, dicurigai China dan Rusia, sehingga akurasi penargetan Teheran meningkat.
Penilaian AS ini muncul ketika Iran melanjutkan Operasi Nasr 2, kampanye militer multi-gelombang yang menargetkan aset militer AS di seluruh Asia Barat sebagai balasan atas serangan Washington terhadap wilayah Iran.
Pada hari Sabtu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis rekaman yang menunjukkan peluncuran beberapa sistem rudal buatan dalam negeri, termasuk rudal balistik Kheibar-Shekan, Zolfaghar, Fateh-110, dan Haj Qassem, bersamaan dengan drone Shahed selama gelombang ke-17 hingga ke-20 operasi tersebut.
Media Iran melaporkan, Iran menyerang posisi militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS terhadap infrastruktur sipil di Iran selatan.
IRGC mengatakan operasi terbaru dilakukan sebagai balasan atas serangan AS yang menargetkan jembatan, infrastruktur listrik, dan fasilitas desalinasi air di Bandar Abbas dan bagian lain Provinsi Hormozgan.
Sebagai bagian dari gelombang ke-20 Operasi Nasr 2, IRGC mengatakan Angkatan Udaranya meluncurkan serangan rudal dan drone terkoordinasi terhadap pangkalan militer AS di Azraq di Yordania, dengan mengatakan operasi tersebut menargetkan tempat penampungan pesawat dan area parkir pesawat yang besar. (man)






