Jakarta, Harian Umum- Partai-partai pengusung Prabowo-Sandi, pasangan nomor urut 2 Pilpres 2019, menanggapi santai tudingan Sekjen PDIP Hasto Kristianto bahwa koalisi ini memanfaatkan emak-emak untuk kepentingan politik.
Tudingan itu disampaikan Hasto saat konsolidasi di kantor DPC PDIP Kabupaten Bekasi, Jalan Inspeksi Kalimalang, Cikarang Pusat, Sabtu (17/11/2018), dalam rangka Safari Kebangsaan.
Selain dihadiri Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, acra itu juga dihadiri Ketua DPD PDIP Jawa Barat Tubagus Hasanuddin, Bendahara DPD PDIP Jawa Barat Waras Wasisto, anggota DPR Risa Mariska dan Daniel Lumban Tobing, Ketua DPRD Jawa Barat Inne Purwadewi, serta Sumiati Moctar
"Menurut pengamatan PAN, setelah kami berjalan bersama-sama Cawapres (Sandiaga Uno) di lebih dari 70 kabupaten/kota, bersama Capres juga di berapa provinsi, justru kami lihat antusiasme emak-emak yang secara proaktif mendatangi Pak Prabowo dan Pak Sandi dan menitipkan aspirasinya," kata Sekjen PAN Eddy Soeparno seperti dikutip dari detikcom, Minggu (17/11/2018).
Ia menilai, penyampaian aspirasi itu merupakan gerakan yang secara otomatis dilakukan oleh emak-emak untuk menyalurkan apa yang belum terpenuhi.
"Kalau dilihat dari situ, justru emak-emak punya harapan besar terhadap Pak Prabowo dan Pak Sandi," imbuhnya.
Eddy bahkan mengatakan, setelah berkampanye keliling ke banyak lokasi, cenderung emak-emak yang proaktif ingin bicara dengan Prabowo atau Sandiaga. Jika tidak dipenuhi, emak-emak akan cenderung memaksa.
"Karena mereka melihat sosok Pak Prabowo adalah sosok yang tegas, Sandi sebagai seorang pengusaha sukses, juga sebagai Wakil Kadin di bidang UMKM, banyak sekali punya pengalaman, yang bisa memenuhi harapan emak-emak ini," bebernya.
Hal yang tak jauh berbeda disampaikan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera. Ia menilai Hasto kurang memahami dinamika emak-emak saat ini, karena menurutnya, saat ini banyak emak-emak yang memang peduli pada masalah perpolitikakn Tanah Air.
"Emak-emak sekarang punya kepedulian politik yang tinggi. Banyak dari mereka berjuang untuk mencintai negeri," katanya.
Selain hal tersebut, menurut inisiator gerakan #2019GantiPresiden itu, Prabowo-Sandi ternyata mendengar jeritan emak-emak itu yang selalu mengangkat masalah harga-harga yang kian mahal, karena emak-emak memang merupakan kalangan yang paling merasakan dampak kondisi ekonomi saat ini.
"Kalangan emak-menak itulah dijadikan inspirasi oleh Prabowo-Sandi," imbuhnya.
Ia mengingatkan bahwa stabilitas keluarga sangat ditentukan oleh stabilitas rumah tangga, dan emak-emaklah manajer yang merasakan dampak ketidakmampuan mengelola supply and demand oleh pemerintah, sehingga Prabowo-Sandi merencanakan bahwa dalam jangka panjang Indoensia dapat berdaulat secara pangan dan energi.
"Buat Prabowo-Sandi, emak-emak bukan hanya sumber inspirasi, tapi segmen yang paling didengar dan diberi peran," imbuhnya lagi.
Direktur Pencapresan PKS, Suhud Alynudin, bahkan menyebut bahwa saat ini emak-emak merupakan korban kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan, karena hingga sejauh ini Presiden Jokowi sebagai calon petahana di Pilpres 2019 masih mengandalkan gaya pencitraan dalam berpolitik.
"Tim Pak Jokowi tampak masih mengandalkan strategi lama, yaitu pencitraan. Padahal sekarang masyarakat sudah merasakan langsung dan dapat menilai kinerja Pak Jokowi yang terbukti tak sesuai dengan janji. Emak-emak salah satu korban kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan rakyat," jelasnya.
Sebelumnya, saat kondolidasi di DPC PDIP Kabupaten Bekasi, Hasto berdialog dengan para kader partainya, dan menanyakan apa program Jokowi?
Seorang kader bernama Dewi menjawab "Keluarga harapan".
Hasto kemudian mengatakan begini; "Di sana bisanya hanya memanfaatkan emak-emak untuk kepentingan politik. Pak Jokowi menghadirkan kebijakan untuk emak". (rhm)







