MBG DAN BOP meluluhlantakkan kepercayaan rakyat terhadap Prabowo-Gibran. Keduanya adalah bom waktu yang sulit untuk dijinakkan, karena sumbu yang awalnya panjang, terus memendek.
----------------------
Oleh: M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Begini nasib Indonesia yang punya pemimpin butut. Yang tua cuma bisa teriak-teriak untuk menghabiskan umur dan menikmati panggung, sementara yang muda hanya mampu otak-atik mainan dan mempermainkan nilai moral bangsa, serta petantang petenteng bagai anak raja bercelana kedodoran.
Tak ada wibawa. Semua kerja keduanya membuat gagal bernegara.
Keduanya bertanggungjawab atas program unggulan saat kampanye, yaitu MSG yang berubah menjadi MBG. Pengerahan segala sumber daya untuk sukses MBG menjadi sorotan. Polisi dan TNI pun ikut dilibatkan.
MBG mendapat sorotan asing, terutama ribuan kasus keracunan yang dianggap sepele oleh Prabowo. Belum jelas efektivitas program ini selain ribut-ribut dukungan dan kritik-kritiknya. Terakhir, kasus teror Ketua BEM UGM atas sikap kritis memelesetkan MBG menjadi Maling Berkedok Gratis. MBG memang rentan penyelewengan. Aktivis kritis pun otomatis melempem setelah diberi asupan proyek MBG.
Rezim over tua dan over muda Prabowo-Gibran nampaknya rapuh. Dukungan rakyat tidak terlihat nyata. Kasus BoP (Board of Peace) telah lebih meluluhlantakan kepercayaan. Umat Islam yang sangat berpihak kepada Palestina marah atas rezim yang justru berpihak kepada zionis Israel. Pelanggaran konstitusi, hak asasi, demokrasi, dan religi. Tanpa evaluasi keterlibatan dalam BoP, maka gumpalan perlawanan akan semakin kuat.
Rezim manapun, termasuk Prabowo, dipastikan tidak akan mampu menahan gelombang kemarahan umat Islam atau rakyat Indonesia. Mereka memandang bahwa rezim Prabowo-Gibran sudah terlalu banyak melanggar nilai luhur bangsa yang merdeka dan beradab. Tidak ada harapan untuk memperpajang kekuasaan. Stop here and now!
MBG dan BoP adalah bom waktu yang sulit untuk dijinakkan. Sumbu yang awalnya panjang, ternyata terus memendek. Argumen apapun yang dibuat untuk melegitimasi MBG dan BoP akan terbentur realita perilaku pemimpin yang rakus, korup, dan seenaknya, menafikan suara rakyat, egois, narsistis, dan pseudo-nasionalis.
Berjoget dan bersilat lidah bukan solusi untuk menyelamatkan. Penyesalan selalu datang di belakang.
Jika takbir seruan jihad sudah berkumandang, maka penguasa manapun pasti tumbang.
Prabowo and Gibran Endgame.
Bandung, 25 Februari 2026







