Jakarta, Harian Umum- Hasil survei Tiga Roda Konsultan pada 23 Juli - 1 Agustus 2018 menunjukkan kalau jumlah warga yang tak menginginkan 2019 Ganti Presiden, meningkat, namun data ini dibantah inisiator gerakan #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera.
"Pada April 2018, jumlah responden yang setuju 2019 Ganti Presiden sebanyak 38,3% dan yang tidak setuju 36,3%. Pada awal Agustus 2018, persentasenya terbalik karena yang setuju 42,7%dan yang tidak setuju 43,4%," ujar Direktur Riset Roda Tiga Konsultan, Rikola Fedri, dalam diskusi bertajuk '#2019GantiPresiden: Ke Arah Siapa?' yang diselenggarakan Forum Warga di sebuah restoran di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/8/2018).
Ia menambahkan, ketidaksetujuan terhadap gerakan #2019GantiPresiden antara lain disampaikan mayoritas responden pria dengan usia di atas 40 tahun, seluruh pemeluk agama non Islam dan partai-partai pendukung pemerintah seperti PDIP, Nasdem, Hanura dan PPP.
"Golkar 50:50, sementara Demokrat 65:35. Gerindra, PAN dan PKS setuju," kata Rikola.
Sementara yang setuju 2019 ganti presiden antara lain pemeluk agama Islam, mayoritas lulusan SLTA, dan petani (46,5%).
Untuk pengguna Facebook yang setuju 2019 ganti presiden sebanyak 33,3% dan yang tidak setuju 47,3%.
Pengguna WhatsApp yang setuju 2019 ganti presiden 29,3% dan yang tidak setuju 36,7%.
Pengguna Twitter yang setuju 2019 ganti presiden 37,5% dan yang tidak setuju 43%.
Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Ilhamsyah yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara ini, menjelaskan, meningkatnya jumlah yang tidak setuju pada gerakan 2019 Ganti Presiden karena gerakan ini tanpa esensi, selain hanya untuk mengumpulkan massa dan bahkan cenderung memanfaatkan sentimen agama.
"Pendukung gerakan ini akan meningkat kalau menawarkan konsep yang jelas, misalnya menawarkan program-program ekonomi yang bisa menjawab masalah keadilan sosial. Tapi dalam gerakan ini, siapa Capres yang akan diusung pun tak jelas," katanya.
Tanggapan Mardani
Inisiator gerakan #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera menjelaskan, gerakan yang digagasnya ini bukan gerakan politik, melainkan social movement, sehingga tidak mengusung Capres.
"Yang dilakukan gerakan ini adalah mengedukasi bagaimana cara memilih presiden yang benar, yang membawa kebaikan bagi bangsa ini," katanya.
Ia juga membantah kalau gerakan #2019GantiPresiden tak punya esensi karena kalau dicermati cuitan-cuitannya di akun Twitter miliknya, yakni @MardaniAliSera, maka akan diketahui ada 7-9 isu yang diusung gerakan #2019GantiPresiden. Antara lain isu bagaimana menyejahterakan masyarakat, tenaga kerja yang terserap secara optimal, isu tentang upah murah buruh dan isu pemberdayaan masjid.
Meski demikian Ketua DPP PKS ini mengakui, di awal pembentukan, gerakan #2019GantiPresiden difokuskan untuk menyatukan gagasan dan melakukan deklarasi di berbagai daerah di Indonesia.
"Setelah itu mulailah kami konsolidasi dengan gerskan-gerakan yang lain, termasuk dengan gerakan guru, buruh, alumni 212, dan lain-lain.
"Sampai sejauh ini kami telah deklarasi di 10-11 daerah," katanya.
Mardani juga membantah kalau gerakan ini mengalami penurunan dukungan karena katanya, sampai sejauh ini gerakan #2019GantiPresiden telah mencapai 560 juta reach (jangkauan), sementara 2019 Tetap Jokowi hanya 112 juta rich.
"Jadi, saya optimis 2019 kita punya pemimpin baru," katanya.
Ketika disinggung soal hasil surveii Tiga Roda Konsultan yang menunjukkan angka bahwa yang tidak setuju pada gerakannya, meningkat melampaui yang setuju, Mardani menyebut kalau setiap survei punya margin error.
"Tapi survei kami jadikan cermin dan bahan untuk mengefektifkan gerakan ini," pungkasnya. (rhm)







