Jakarta, Harian Umum - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim "banyak negara" akan mengirimkan kapal perang untuk menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka, tanpa memberikan rincian tentang negara mana saja yang dimaksud.
Klaim.itu disampaikan Trump karena sejak pihaknya bersama Israel menggempur Iran pada tanggal 28 Februari 2026, Iran menutup selat yang merupakan jalur pengangkut 20 persen kebutuhan minyak dan gas alam cair itu.
"Banyak negara, terutama yang terkena dampak upaya Iran untuk menutup" selat tersebut, akan mengirimkan kapal perang "bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga agar Selat tetap terbuka dan aman," kata Trump melalui akun Truth Social-nya dikutip dari Al Jazeera, Minggu (15/3/2026).
Trump berharap China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris ikut berkontribusi untuk upaya ini.
Dalam unggahan tersebut, Trump menegaskan bahwa AS telah "menghancurkan 100% kemampuan militer Iran", namun mengakui bahwa Teheran masih dapat "mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat" di sepanjang jalur air tersebut.
Trump berjanji bahwa AS akan "membombardir habis-habisan garis pantai, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran," jika Iran menyerang kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz agar selat itu tetap "TERBUKA, AMAN, dan BEBAS."
Dalam unggahan lanjutan di Truth Social, Trump mengatakan, “Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut, dan kami akan membantu — SANGAT BANYAK!”
Ia mengatakan AS akan “berkoordinasi dengan negara-negara tersebut agar semuanya berjalan cepat, lancar, dan baik,” dan menyebutnya sebagai “upaya tim”.
Menanggapi Trump, Alireza Tangsiri, kepala angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan, Selat Hormuz belum ditutup secara militer dan hanya berada di bawah kendali Iran.
Dalam sebuah unggahan di X, ia membalas pernyataan Trump, dengan agak mengejek; “Amerika secara keliru mengklaim penghancuran angkatan laut Iran. Kemudian mereka secara keliru mengklaim pengawalan kapal tanker minyak. Sekarang mereka bahkan meminta bantuan pasukan dari pihak lain".
‘Tidak ada kapal Amerika’
Pekan lalu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada media berita AS CNBC bahwa AS belum siap untuk melakukan pengawalan kapal melalui selat itu sendiri.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengklarifikasi bahwa selat itu hanya ditutup untuk “kapal tanker dan kapal musuh serta sekutu mereka,” bukan semua kapal, sementara Mohsen Rezaee, anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, sebuah badan berpengaruh yang dekat dengan pemimpin tertinggi, mengatakan, “Tidak ada kapal Amerika yang berhak memasuki Teluk.”
Dua kapal tanker berbendera India yang membawa gas minyak cair melintasi selat dengan selamat pada Sabtu pagi, kata Rajesh Kumar Sinha, sekretaris khusus Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Perairan India.
Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, mengkonfirmasi bahwa Teheran telah memberikan pengecualian langka kepada kapal-kapal India, hasil dari pembicaraan langsung antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Kamis.
Sebuah kapal milik Turki juga diizinkan masuk awal pekan ini setelah Ankara bernegosiasi langsung dengan Teheran, dengan 14 kapal Turki lainnya masih menunggu izin.
AS memperkuat kehadirannya di kawasan tersebut, dengan sekitar 2.500 Marinir dan kapal serbu amfibi USS Tripoli dalam perjalanan ke Timur Tengah menyusul permintaan CENTCOM yang disetujui oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Seperti diketahui, penutupan Selat Hormuz mendongkrak harga minyak dunia hingga sempat menyentuh $100 per barel pada Senin, membuat Trump panik karena jika kapal-kapal tanker AS tidak bisa melewati selat itu, AS akan mengalami krisis energi, sehingga Trump sempat punya opsi untuk membeli minyak dari Rusia.
Kepala kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, bahkan telah memperingatkan bahwa “jutaan orang berisiko” jika kargo kemanusiaan tidak dapat melewati selat tersebut dengan aman. (man)


