Jakarta , Harian Umum - Pengunduran dirinya dari jabatan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) pada Mei 2025, setelah membuat pernyataan kotroversial terkait teror kepala babi di kantor Tempo, ditolak Presiden Prabowo Subianto.
Akan tetapi pada Rabu (17/9/2025) Hasan Nasbi dicopot dari jabatan tersebut dan diganti Angga Raka yang semula menjabat sebagai wakil Menteri Komunasisi dan Informatika.
Selain mencopot Hasan Nasbi, Prabowo juga mengganti nomenklatur PCO menjadi Badan Komunikasi Pemerintah.
Sempat muncul tanda tanya mengapa Prabowo menolak pengunduran diri Hasan Nasbi, akan tetapi kemudian mencopotnya.
Kini terjawab, ternyata sejak 11 September 2025 lalu Hasan Nasbi ditunjuk menjadi Komisaris PT Pertamina (Persero).
Dilansir kompas.com, Sabtu (20/9/2025), Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan, penunjukan Hasan sesuai dengan rekeputusan para pemegang saham perusahaan.
Pengangkatan Hasan sebagai komisaris diatur dalam Keputusan Menteri BUMN dan Direktur Utama PT Danantara Asset Management selaku pemegang saham PT Pertamina (Persero) Nomor SK-247/MBU/09/2025 dan Nomor SK.055/DI-DAM/DO/2025 Tentang Pengangkatan Anggota Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero).
“Mengacu salinan keputusan para pemegang saham perusahaan, Bapak Hasan Nasbi ditetapkan sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero) per tanggal 11 September 2025,” kata Fadjar, Sabtu (20/9/2025).
Dengan diangkatnya Hasan Nasbi menjadi komisaris di BUMN itu, maka Pertamina memiliki empat komisaris Pertamina. Tiga lainnya adalah Nanik Sudaryati Deyang, Heru Pambudi, dan Bambang Suswantono.
Susunan Komisaris Pertamina juga diisi oleh Mochamad Iriawan selaku Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen, dan Todotua Pasaribu sebagai Wakil Komisaris Utama.
Selain itu, ada Condro Kirono dan Raden Adjeng Sondaryani yang menjabat sebagai Komisaris Independen.
Hasan Nsbii merupakan pendiri Cyrus Network, sebuah lembaga survei.
Pada Desember 2011, Hasan Nasbi berkenalan dengan Walikota Surakarta Joko Widodo yang berdasarkan hasil survei lembaganya, didorong untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.
Pada 2012, Hasan Nasbi menjadi Koordinator Tim Relawan Joko Widodo–Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2012.
Pada 2016, ia dan enam orang temannya memodali Teman Ahok sebesar Rp500 juta, dan Pada Januari 2023, ia melakukan perjanjian taruhan mobil Toyota Alphard dengan Sunny Tanuwidjaja apabila Anies Baswedan berhasil maju menjadi calon presiden dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2024.
Dengan kata lain, seperti halnya M Qodari, direktur eksekutif Indo Barometer, Hasan Nasbi adalah pendukung militan Jokowi. (rhm)






