Jakarta, Harian Umum - Presiden Prabowo Subianto banjir kritik dalam acara peringatan Tragedi 21-22 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).
Depan Bawaslu merupakan titik awal terjadinya tragedi yang menewaskan sedikitnya 9 orang itu, sebelum kemudian melebar hingga wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Peringatan itu diselenggarakan oleh Aliansi Rakyat Menggugat (ARM), dan dihadiri sejumlah tokoh seperti Muhammad Rizal Fadillah, Ketua UI Watch Taufik Bahaudin, Marwan Batubara, dan lain-lain.
Sebelum aksi dimulai sekitar pukul 16:00 WIB, massa ARM yang didominasi kaum emak-emak dan berjumlah puluhan orang, berkumpul di Jalan KH Wahid Hasyim, tepat di samping Mall Sarinah. Mereka membawa banner dengan tulisan mencolok "TANGKAP JOKOWI", membawa spanduk-spanduk dan satu unit mobil komando.
Mereka lalu menyeberangi Jalan MH Thamrin dan langsung ke gedung Bawaslu yang berada di jalan itu, tepat di seberang Sarinah.
"Di sini dulu, tahun 2019, kita berkumpul dan mengalami sebuah tragedi yang menewaskan sembilan orang akibat kebrutalan aparat," kata Menuk Wulandari, presidium ARM, dalam orasinya.
Tragedi 21-22 Mei 2019 dipicu oleh aksi menolak Pilpres 2019 yang dinilai curang demi memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Setidaknya ada lima indikasi Kecurangan kala itu, yakni penyalahgunaan Anggaran Belanja Negara dan Program Kerja Pemerintah; Penyalahgunaan birokrasi dan BUMN; ketidaknetralan Aparatur Negara, polisi dan intelijen; pembatasan kebebasan pers; dan diskriminasi perlakuan dan penyalahgunaan penegakkan hukum.
Para demonstran kala itu adalah pendukung Prabowo-Sandi. Bawaslu didemo karena dinilai tidak bekerja maksimal, sehingga ketika hasil Pilpres diumumkan pada tanggal 21 Mei, KPU menyatakan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai pemenangnya, sehingga Jokowi berhak menjadi presiden untuk periode kedua
Tragedi pecah karena hingga lewat magrib, massa tetap bertahan di depan Bawaslu, sehingga dibubarkan paksa oleh polisi, dan pecahlah bentrokan.
Salah satu korban adalah Harum Al Rasyid (14), yang tewas akibat peluru menembus dadanya Ayah almarhum Harun, Didin Wahyudin, hadir dalam peringatan tragedi 21-22 Mei di depan Bawaslu. Dia, Menuk dan Rizal Fadillah termasuk yang keras mengeritik Prabowo.
Umumnya, mereka mengatakan hal yang sama tentang Prabowo, yakni bahwa mereka dulu berjuang untuk Prabowo, tapi kemudian Prabowo menjadi Menteri Pertahanan di pemerintahan Jokowi, dan saat Pilpres 2024, Prabowo juga melakukan kecurangan seperti Jokowi dulu.
"Prabowo telah berkhianat! Dan sekarang, setelah menjadi presiden dengan cara yang curang seperti Jokowi dulu, dia juga menyusahkan rakyat!" kritik Rizal Fadillah.
Namun, ketiganya sepakat bahwa pangkal persoalan bangsa yang dihadapi saat ini adalah Jokowi, karena sejak Jokowi menjadi presiden Indonesia menjadi banyak masalah.
"Karenanya, kami tuntut aparat penegak hukum untuk tangkap dan adili Jokowi!" teriak Menuk. (rhm)







