Beijing, Harian Umum - Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saling memberikan pujian dalam pertemuan di Beijing, Kamis (14/5/2026).
Pertemuan ini berlangsung di tengah persaingan geopolitik dan ekonomi yang sedang berlangsung antara AS dan China, dengan kedua pihak berupaya mengelola ketegangan sambil mempertahankan perdagangan dan keterlibatan diplomatik.
Selain itu, pertemuan ini juga terjadi di tengah memanasnya kembali konflik antara AS dengan Iran yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026, dan China sebagai sekutu Iran, berada di pihak Negeri Para Mullah itu.
Konflik AS - Iran kembali memanas karena beberapa kali upaya perundingan untuk mengakhiri perang, selalu gagal, karena AS bertahan pada keinginannya untuk melucuti program nuklir Iran dan mengambil alih kontrol Selat Hormuz, sementara Iran bertahan dengan program tersebut dan tetap ingin mengendalikan dan mengontrol Selat Hormuz, karena dipandang sebagai kedaulatan negaranya.
Selain itu, selama perang berlangsung, Iran memperlihatkan keunggulan atas AS dan Israel.
Berbicara di Balai Agung Rakyat, Xi mengatakan bahwa kepentingan bersama antara China dan AS lebih besar daripada perbedaan mereka.
Ia juga mengatakan, hubungan yang stabil antara kedua negara dengan kekuatan besar (China dan AS), akan menguntungkan seluruh dunia.
“Saya selalu percaya bahwa kepentingan bersama China dan Amerika Serikat lebih besar daripada perbedaan di antara mereka, dan bahwa keberhasilan masing-masing pihak merupakan peluang bagi pihak lain,” kata Xi dikutip dari Al Mayadeen.
Ia menegaskan bahwa Beijing dan Washington harus “bekerja sama dan menjadi mitra, bukan musuh", dengan alasan bahwa kerja sama timbal balik dapat membuka jalan bagi “interaksi yang tepat antara kekuatan besar di era baru".
Xi yang menemui Trump di Beijing, ibukota China, mengatakan kepada presiden AS bahwa ia “sangat senang” bertemu dengannya.
Trump yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China dari tanggal 13 hingga 15 Mei, berulang kali memuji Xi selama pertemuan tersebut dan menyatakan optimisme tentang masa depan hubungan China-AS.
“Anda adalah pemimpin yang hebat. Saya mengatakannya kepada semua orang. Terkadang orang tidak suka saya mengatakannya, tetapi saya tetap mengatakannya, karena itu benar,” kata Trump kepada Xi.
Trump menambahkan bahwa merupakan “suatu kehormatan” untuk bertemu Xi dan menggambarkan pemimpin China itu sebagai seorang teman.
Dalam pertemuan itu, Trump juga menyoroti pentingnya hubungan ekonomi antara kedua negara, dan memberitahu bahwa para pemimpin bisnis AS yang mendampinginya ke Beijing sangat ingin memperluas hubungan perdagangan dengan China
“Mereka berharap untuk berdagang dan berbisnis, dan itu akan sepenuhnya timbal balik dari pihak kita,” kata Trump.
Namun, Xi menekankan tentang pentingnya menjaga hubungan yang stabil antara Beijing dan Washington, dan bahkan mengingatkan tentang “apa yang disebut Jebakan Thucydides” dalam hubungan antara kedua kekuatan negara.
“Apakah China dan AS dapat mengatasi apa yang disebut Jebakan Thucydides dan menciptakan model baru hubungan antara kekuatan besar…? Ini adalah yang ditanyakan dunia dan sejarah," kata Xi kepada Trump.
Jebakan Thucydides adalah istilah dalam ilmu politik untuk menggambarkan kecenderungan struktural terjadinya perang ketika sebuah kekuatan baru yang bangkit (seperti China) mengancam untuk menggantikan kekuatan besar yang sudah mapan (seperti AS).
Mengenai hubungan ekonomi, Xi mengatakan “tidak ada pemenang dalam perang dagang".
"Inti dari hubungan perdagangan dan ekonomi China -AS adalah saling menguntungkan," katanya.
Ia lebih lanjut menekankan bahwa di tengah “ketidaksepakatan dan gesekan,” konsultasi yang dilakukan “atas dasar kesetaraan adalah satu-satunya pilihan yang tepat” untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dan ekonomi antara kedua negara.
Xi dan Trump tekankan diplomasi pribadi
Selama pembicaraan, Trump menunjuk pada hubungan pribadinya dengan Xi sebagai faktor kunci dalam mengatasi ketegangan antara Washington dan Beijing.
“Ketika ada kesulitan, kami menyelesaikannya. Saya akan menelepon Anda, dan Anda akan menelepon saya,” kata Trump.
“Setiap kali kami memiliki masalah, kami menyelesaikannya dengan sangat cepat," imbuhnya.
Trump selanjutnya menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara akan menikmati “masa depan yang fantastis bersama" dengan mengatakan bahwa perselisihan antara kedua pihak secara konsisten diselesaikan melalui komunikasi langsung. (man)







