Jakarta, Harian Umum - Majelis Ulama Indonesia (MUI) diminta mengeluarkan fatwa terkait definisi organisasi kemasyarakatan (Ormas) radikal dan intoleran.
Permintaan ini disampaikan terkait aksi Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang berkali-kali membubarkan pengajian dan dakwah Islam.
Terakhir, Ormas underbow Nahdlatul Ulama (NU) itu membubarkan acara dakwah bertajuk "Antara Wahyu dan Nafsu" yang diselenggarakan Ustad Felix Siauw di Masjid Manarul Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Jawa Timur, Sabtu (4/11/2017).
"MUI harus mengambil peran dengan menerbitkan fatwa tentang apakah itu Ormas radikal, Ormas intoleran, untuk menjadi panduan bagi siapan pun yang ingin bertindak," ujar Ketua Dimensi Centre Ferry Iswan kepada harianumum.com, Kamis (9/11/2017).
Ia mengakui kalau ada yang janggal dalam apa yang dilakukan Banser dan Ansor tersebut, karena pembubaran dilakukan dengan alasan kalau Felix adalah ustad HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), Ormas Islam yang dibubarkan pemerintah karena berniat mendirikan khilafah di Indonesia.
Sebab, di sisi lain Pimpinan Cabang (PC) NU Kabupaten Garut, Jawa Barat, melarang tabligh akbar yang akan dihadiri Ustad KH Bahtiar Natsir, Sabtu (11/11/2017) di alun-alun Kabupaten Garut, karena Bahtiar Natsir selain merupakan ketua umum GNPF-MUI, juga merupakan ustad dari Muhammadiyah.
"Saya melihat ada oknum yang bermain dalam masalah ini untuk tujuan-tujuan tertentu, termasuk "mencari kamera" karena tahun depan (2018) dan 2019 adalah tahun politik. Dengan kata lain, Ansor dan Banser sepertinya memang sedang dimanfaatkan ," katanya.
Meski demikian ia juga meminta Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj berbuat sesuatu agar tindakan GP Ansor dan Banser tidak berlanjut, karena warga NU biasanya patuh pada pemimpinnya.
"Saya percaya jika pemimpin mereka bertitah, mereka akan patuh," kata Ferry lagi.
Ketika ditanya apa yang membuat GP Ansor dan Banser dapat dimanfaatkan seperti itu, ia mengatakan kalau NU struktural memang sudah tidak steril, tidak seperti NU kultural yang masih istiqomah, dan ia percaya saat ini Ansor dan Banser digerakkan oleh kader-kader dari NU struktural tersebut.
"NU itu kan (awalnya) Ormas pesantren yang kader-kadernya kemudian menjadi politikus dan lain-lain. Beda dengan Muhammadiyah yang sejak awal berbasis pada intelektual, sehingga kuat dikaderisasi dan tidak mudah dipecah atau ditunggangi serta dimanfaatkan. Muhammadiyah bahkan mampu konsisten dengan garis perjuangannya," kata dia lagi.
Ferry berharap Ansor dan Banser dapat tetap berpegang pada Al Quran dan Hadist dalam setiap tindak tanduknya, karena bagaimana pun "menyerang" sesama Muslim bukanlah tindakan yang terpuji.
"Lagipula sekarang sudah ada UU Ormas yang baru yang dapat membubarkan Ormas yang dinilai radikal," pungkasnya. (rhm)







