Kudus, Harian Umum - Aplikasi TikTok menjadi primadona dalam acara Kudus Business Series #01 dengan tema "Strategi Memenangkan Persaingan Bisnis di Tahun 2024 yang diselenggarakan DPD Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Kudus, Jawa Tengah, dan IIBF Pusat di RS Sarkis, Kudus, Jateng, Minggu (21/1/2024).
Acara yang menghadirkan tiga narasumber ini, yaitu Presiden. IIBF Heppy Trenggono; Bagus Estu R, owner Juwita Collection Jepara dan akun Juco_official; serta Nofi Mahmud S, owner restoran dengan brand Mbok Tin dihadiri sekitar 500 pengusaha Kudus dan sekitarnya yang mayoritas merupakan pengusaha muda dan masih berstatus UMKM.
TikTok menjadi primadona dalam acara ini karena Bagus yang seorang pengusaha konveksi, dikenal sebagai pengusaha yang sukses karena TikTok. Pengusaha ini pun dengan tak ragu-ragu membagikan ilmunya dan menjawab pertanyaan peserta tentang seputar pemberdayaan usaha dengan TikTok.
'Dulu di Shopee enak. Kalau sudah bikin katalog yang bagus, konten yang bagus, dan lain-lain, nah sudah. Kalau di Tiktok gak gitu," katanya.
Ia pun membeberkan langkah-langkah mengembangkan bisnis dengan TikTok sebagai berikut:
A. Langkan persiapan "Sebelum terjun di TikTok"
1. pahami rule TikTok
2. pahami goal anda untuk berbisnis melalui TikTok
3. Pahami Niche (target spesifik) anda
B. Langkah dasar menuju closing
1. Membangun Niche akun
2. Membangun Niche produk
C. Langkah optimasi memaksimalkan penjualan
1. Konten yang bagus dan menarik
2. Live streaming
3. Affiliate
4. Iklan
5. Akun pemasaran
Selain hal ini, Bagus juga mengajarkan bahwa kalau ingin berjualan melalui TikTok, jangan melalui keranjang kuning, tetapi creator.
"Yang juga penting, usahakan kata kunci dan deskripsi akun di-ACC oleh TikTok," katanya.
Banyak pertanyaan yang diajukan kepada Bagus. Bahkan ada peserta diskusi yang meminta Bagus mengadakan kelas khusus TikTok, dan ketika moderator menanyakan siapa lagi yang punya keinginan yang sama? Lebih dari separuh yang berdiri. Yang tetap duduk merupakan pengusaha-pengusaha yang agaknya masih fokus berdagang secara offline (konvensional).
Nofi, pengusaha kuliner yang tetap berdagang secara offline, membenarkan bahwa target market merupakan hal yang sangat penting.
"Dengan memahami target market, akan muncul cara mainnya gimana," kata dia.
Nofi juga mengajarkan bahwa jika bisnis ingin sukses , maka manajemennya, marketnya, cashflow dan keuangannya harus kuat.
"Sering pengusaha emosional, belum kuat bisnisnya sudah mau buka cabang. Ini justru akan membunuh kita," katanya.
Ia juga menyarankan, jika usaha kurang maju dan dagangan tidak laku, maka perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh.
"Penting juga untuk diketahui apakah target marketnya salah," kata dia. (rhm)







