Teheran, Harian Umum - Iran telah menyerang 27 pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang berada di sejumlah negara di kawasan Teluk.
Serangan itu dilancarkan sebagai balasan atas serangan AS-Israel ke 24 provinsi di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan itu menewaskan lebih dari 201 orang, termasuk Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta anak perempuannya, menantu dan cucunya.
"Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berjanji akan membalas dendam, dan mengatakan telah melancarkan serangan terhadap 27 pangkalan pasukan AS di Timur Tengah, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv. Ledakan terus terdengar di Qatar dan Uni Emirat Arab," kata Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).
Pangkalan militer AS yang diserang di antaranya berada di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Irak dan Bahrain.
Serangan itu membuat Qatar, Kuwait, Bahrain, dan UEA menutup sementara wilayah udara mereka dan mengutuk serangan Iran ke wilayah mereka.
Reporter Al Jazeera Zein Basravi melaporkan dari Doha bahwa satu-satunya negara di Dewan Kerja Sama Teluk yang belum diserang Iran hingga saat ini adalah Oman, negara yang selama bertahun-tahun berperan sebagai penghubung antara Iran dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Oman bahkan diketahui memainkan peran sentral dalam pembicaraan tidak langsung baru-baru ini antara Iran dan AS di Oman dan Jenewa.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, pada hari Jumat (27/2/2026) menyatakan optimisme bahwa perdamaian "sudah di depan mata" karena Iran telah setuju selama pembicaraan untuk tidak pernah menimbun uranium yang diperkaya.
Albusaidi menggambarkan perkembangan tersebut sebagai terobosan besar.
Namun, beberapa jam kemudian, Israel dan AS menyerang Iran, dan pembicaraan tersebut kini telah berakhir.
Albusaidi mengaku "kekecewaan" atas pecahnya kekerasan dan mendesak Washington untuk "tidak semakin terlibat" dalam konflik tersebut.
"Ini bukan perang Anda," katanya. (man)







