Jakarta, Harian Umum - Industri perhotelan di Jakarta mulai bertumbangan, sehingga banyak gedung hotel yang dijual.
Menurut Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Daerah Khusus Jakarta (BPD PHRI DKJ), Sutrisno Iwantono, saat ini industri hotel sedang krisis sehingga beberapa pemilik memilih menjualnya.
Kasus ini banyak ia temukan saat membuka beberapa situs jual beli properti online.
"Kalau yang melapor (ke PHRI DK Jakarta) belum ada ya, tetapi kalau kita lihat angka-angka di situs jual properti online, itu yang jualan gedung hotel itu sudah banyak sekali. Artinya, mereka kesulitan untuk mengelola," kata Iwantono dalam konferensi pers online, Senin (26/5/2025).
Ia menyebut ada beberapa faktor utama yang memicu kondisi industri perhotelan semakin memburuk.
Dari hasil survei oleh BPD PHRI DKJ, sebanyak 66,7% responden menyebutkan penurunan tertinggi berasal dari segmen pasar pemerintahan. Hal ini dampak dari kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan sejumlah lembaga pemerintah.
"Ini karena adanya pengetatan anggaran. Sebagaimana kita tahu, hotel-hotel itu memang salah satu sumber penting, mulai dari hunian kamar, (ruang) meeting, juga restoran itu berasal dari pemerintah," jelas Iwantono.
Pelaku usaha hotel juga harus menanggung biaya operasional yang makin mahal, mulai dari tarif PDAM, gas, dan listrik yang mengalami kenaikan. Di sisi lain, tingkat hunian hotel mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir sehingga banyak yang merugi.
Dengan kondisi yang semakin krisis, sebanyak 70% pemilik hotel yang disurvei BPD PHRI DK Jakarta menyatakan akan melakukan pengurangan jumlah karyawan. Responden memprediksi akan melakukan PHK karyawan sebanyak 10-30%.
Selain itu, 90% responden melakukan pengurangan daily worker dan 37,7% responden akan melakukan pengurangan staf.
Iwantono berharap pemerintah dapat merespons secara cepat dan tepat terhadap permasalahan yang terjadi. Sebab, industri hotel dan restoran tak hanya penting dalam perekonomian, tapi juga menjadi wajah pariwisata Jakarta di mata internasional.
"Jika ingin dilakukan penghematan tolong selektif ya, dalam artian sekiranya hal-hal yang tidak perlu dikurangi seperti yang menyangkut kehidupan orang banyak, karena ini dapat berdampak luas dan tentu dampaknya ke masyarakat," jelasnya.
Dari penelusuran detikcom di berbagai situs diketahui kalau salah satu gedung hotel yang dijual berlokasi di Pademangan, Jakarta Utara. Hotel ini terdiri dari 146 kamar dengan luas bangunan 7.200 meter persegi dan luas tanah 5.775 meter persegi.
Hotel ini dijual berikut aset-aset yang ada di dalamnya.
Dalam kolom deskripsi tertulis bahwa hotel ini dalam kondisi terawat, rapi, dan bersih. Harga hotel itu dibanderol Rp 45 miliar.
Hotel lain yang dijual berada di kawasan Grogol Pertamburan, Jakarta Barat. Hotel ini merupakan hotel bintang tiga dengan luas tanah 1.156 m2 dan luas bangunan 4.188 m2.
Pada kolom deskripsi, tertulis bahwa hotel ini terdiri dari 10 lantai dan memiliki 96 kamar. Hotel ini memiliki ruang meeting dan parkiran basement yang dapat menampung hingga 47 mobil. Hotel dijual dengan harga Rp 65 miliar.
Sebuah hotel bintang empat di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, juga dijual. Hotel di lokasi yang berlokasi di dekat jalan tol dan pusat perbelanjaan ini memilik luas tanah 5.234 m2 dan luas bangunan 25.617 m2.
Bangunan hotel ini terdiri dari 26 lantai dan memiliki 296 kamar serta 5 unit lift.
Hotel ini ditawarkan dengan harga Rp 800 miliar, belum termasuk PPN.
Sebuah hotel di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, dijual Rp 91 miliar, sementara hotel di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dijual dengan harga Rp 250 miliar. (man)





