Jakarta, Harian Umum- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar), Sugiyanto, menilai dua Baswedan, yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan dan penyidik KPK Novel Baswedan, sangat potensial untuk dipasangkan dengan Prabowo Subianto sebagai Cawapres Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Pasalnya, selain kedua Baswedan tersebut bukan kader Gerindra, PKS dan PAN, keduanya juga diyakini dapat mendukung Prabowo untuk memenangi Pilpres dengan mendongkrak perolehan suara.
"Saat ini alotnya penentuan Cawapres Prabowo karena baik PKS maupun PAN sebagai mitra koalisi Gerindra saat Pilpres, menginginkan posisi itu. Kalau Anies atau Novel yang dipilih, saya yakin bisa jadi solusi," katanya kepada harianumum.com melalui telepon, Selasa (25/7/2018).
Aktivis senior ini menilai, Anies dan Novel layak diperhitungkan karena keduanya memenuhi tiga persyaratan untuk dipilih. Ketiga persyaratan dimaksud adalah populer, dapat menarik simpati kaum ibu dan pemilih pemula, serta clear and clean.
Meski demikian aktivis yang akrab disapa SGY ini mengakui kalau setelah Presiden Jokowi menerbitkan PP Nomor 32 Tahun 2018 yang menyatakan bahwa gubernur yang maju sebagai Capres atau Cawapes harus seizin presiden, peluang Anies untuk menjadi Cawapres Prabowo mungkin terganjal, sehingga peluang terbesar akhirnya ada pada Novel.
"Saya yakin Novel dapat menjadi Cawapres yang bagus bagi Prabowo. Meski saat ini dia punya masalah dengan matanya, seiring dengan berjalannya waktu, masalah itu akan membaik," katanya.
Seperti diketahui, hingga kini siapa Cawapres Prabowo masih menjadi bola liar karena rencananya baru akan diumumkan menjelang pendaftaran Capres-Cawapres pada Agustus mendatang.
Sejumlah nama sempat disebut-sebut layak mendampingi mantan Danjen Kopassus itu. Bahkan lobi Demokrat ke Gerindra sempat disebut-sebut sebagai upaya menjajagi kemungkinan menduetkan Prabowo dengan pangeran Cikeas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Namun usai pertemuan dengan SBY, Selasa (24/7/2018) malam, Prabowo mengatakan kalau permintaan SBY agar ia duet dengan AHY bukan harga mati. (rhm)







