Jakarta, Harian Umum - Apakah seseorang percaya ijazah mantan Presiden Jokowi asli atau palsu, ternyata dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya.
Hal itu ditunjukkan oleh hasil survei yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA , Rabu (30/7/2025).
Pasalnya, hasil survei itu menunjukkan bahwa responden yang mengaku tidak percaya ijazah Jokowi palsu didominasi dari kelompok responden dengan tingkat pendidikan lulusan SD ke bawah. Jumlahnya pun fantastis, mencapai 81,5 persen.
"Di segmen pendidikan, mereka yang hanya tamat SD ke bawah, sebesar 81,5 persen tak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi. Di mereka yang hanya tamat SMP atau sederajat, sebesar 73,7 persen yang tak percaya, dan di segmen mereka yang tamat SMA sederajat sebesar 69,8 persen," kata peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa dalam paparannya seperti dilansir CNN Indonesia.
Sebaliknya, angka terbesar responden yang mengaku percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi, didominasi kelompok masyarakat dengan lulusan pendidikan D3 ke atas yang angkanya mencapai 20,6 persen.
"Tamat D3 ke atas yang percaya ijazah Jokowi palsu 20,6 persen, tamat SMA 13,8 persen, tamat SMP 10,5 persen, tamat SD 7,4 persen," kata Ardian.
Dari segmentasi tempat tinggal, pada kelompok responden yang mengaku percaya ijazah Jokowi palsu, angkanya banyak didominasi dari masyarakat perkotaan dengan 16,3 persen berbanding 10,4 persen dari masyarakat pedesaan.
"Mereka yang percaya isu ijazah palsu Jokowi lebih banyak di perkotaan," kata Ardian.
Dari kelompok usia, pada responden yang mengaku percaya, angkanya banyak didominasi dari kelompok atau generasi Z sebesar 14,3 persen. Atau lebih besar dari generasi milenial sebesar 9,5 persen, generasi X 13,8 persen, dan baby boomer 11,9 persen.
"Memang terlihat dari data ini, semakin generasi X, ini semakin yang tidak percaya terhadap isu ijazah palsu Jokowi," kata dia.
Secara keseluruhan, dalam survei tersebut, sebanyak 74,6 persen responden mengaku tak percaya isu ijazah palsu Jokowi. Hanya 12,2 persen responden yang mengaku cukup percaya atau sangat percaya, dan sisanya 13,2 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Survei itu itu memberikan pertanyaan kepada responden, 'apakah ibu/bapak percaya bahwa ijazah Presiden Jokowi Palsu?
Survei kepercayaan terhadap isu ijazah palsu Jokowi dilakukan terhadap 1.200 responden di seluruh Indonesia dengan metode multi stage random sampling. Teknik pengumpulan data survei menggunakan wawancara tatap muka lewat kuisioner selama periode 28 Mei hingga 12 Juni 2025 dengan margin of error sekitar 2,9 persen. (man)




