Jakarta, Harian Umum - Kontingen TNI AD meraih Juara Umum Lomba Tembak ASEAN Army Rifle Meet (AARM) ke-27 tahun 2017 yang digelar sejak tanggal 14 November lalu di Singapura, dengan meraih 31 medali emas (dari total 45 medali emas yang diperebutkan), 10 medali perak dan 10 medali perunggu, serta 9 tropi (dari 15 tropi yang diperebutkan).
Perolehan medali dan tropi tersebut merupakan prestasi yang terbaik dari lomba menembak yang pernah diselenggarakan sebelumnya. Adapun urutan ke-2 diraih oleh Thailand dengan 3 tropi, 7 emas, 12 perak dan 6 perunggu. Dan urutan ke-3 Filipina dengan 1 tropi, 3 emas, 8 perak dan 7 perunggu.
Dalam sambutanya ketua Kontingen Lomba tembak AARM Mayor Inf Nurwahyudi pada media menyampaikan bahwa prestasi luar biasa yang diraih saat ini diperoleh berkat kebersamaan yang sangat solid dari seluruh tim.
“Itu yang terbaik bagi tim kami, ini sesuatu kekuatan yang luar biasa adanya kekompakan tim yang paling utama,” katanya.
Menurut Komandan Kontingan Lomba Tembak AARM Ke-27 tahun 2017 kali ini yang berbeda adalah adanya perubahan lapangan tembak pistol putra dan putri, yang selama diadakannya menggunakan lapangan tembak outdoor, sedangkan pelaksanaan kali ini di Singapura menggunakan lapangan Indoor.
“Namun demikian kita masih dapat mengimbangi dan justru kita mendapatkan 3 tropi dari pelaksanaan menembak pistol putra dan putri,” ujarnya.
Sementara itu Direktur Bisnis Produk Hankam PT Pindad, Wijayanto menyampaikan bahwa, kegiatan AARM Ke-27 ini merupakan bentuk manifestasi dukungan dari industri pertahanan dalam negeri.
“Senjata-senjata buatan putra-putri dalam negeri tidak mengecewakan, bahkan bisa menjadi juara umum dengan menggunakan senjata SS2 V4 Cherry Belle, SS2 V2 dan semua amunisi yang digunakan petembak TNI AD adalah buatan PT Pindad,” jelasnya.
Wijayanto juga mengatakan bahwa peningkatan kualitas dan enduren menjadi salah satu materi masukan penting dari tim petembak, hasil yang diperoleh dari petembak ini menjadi pekerjaan rumah bagaimana membuat senjata yang bagus untuk pasukan organik maupun kompetisi.
“Ini memerlukan keahlian dan memerlukan gratifikasi,” katanya.(tqn)





