Jakarta, Harian Umum- Dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Aad Satria Permadi, mengatakan, kebiasaan pemerintahan Jokowi yang senang menyalahkan pihak lain, namun mengklaim karya orang lain, mengindikasikan kalau pemerintahan ini memiliki watak self serving bias.
"Kepribadian self serving bias memang seperti itu; menyalahkan pihak lain jika ada hal-hal yang buruk, dan mengklaim sebagai hasil karyanya untuk hal-hal yang baik dan menguntungkan dirinya," kata Aad dalam diskusi bertajuk 'Jelang Pilpres Jokowi Blunder dan Panik?" di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).
Meski demikian dosen muda ini menilai, Presiden Jokowi tidak dapat sepenuhnya disalahkan jika memang bukan dia yang menentukan kebijakan di pemerintahannya, karena orang-orang yang berada di belakangnya dan menjadi pengendali atas dirinya lah yang membuat watak pemerintahannya menjadi seperti itu.
Aad bahkan mengatakan, jika posisi Jokowi memang bukan penentu kebijakan, maka ia pun percaya saat ini Jokowi tidak panik meski elektabilitasnya mangkrak, bahkan cenderung terus turun, karena yang panik adalah orang-orang yang mengendalikan dia yang ramai disebut sebagai dalang. Apalagi karena baik Prabowo maupun Amien Rais pernah mengatakan kalau Jokowi kalah di Pilpres 2019 dan Prabowo menjadi presiden, maka akan ada penangkapan-penangkapan.
Meski demikian, dosen yang gaya bicaranya mirip Rocky Gerung ini mengakui, jika Jokowi memang Pilpres 2019 dan menjadi presiden untuk periode kedua, maka akan terjadi dua hal.
1. Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang berprestasi, karena orang yang berprestasi selalu fokus pada otokritik dan membutuhkan achievment yang tinggi. Sementara pemerintahan atau orang yang berwatak self serving bias sebaliknya.
"Itu sebabnya banyak janji-janji Jokowi yang tidak mampu direalisasikan, termasuk janji membesarkan Pertamina hingga seperti Petronas," katanya.
2. Indonesia akan menjadi negara yang otoriter
Untuk hal ini, Aad melihat dari profil psikologis Jokowi yang sangat patuh kepada Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Ia mencontohkan para pengikuti Nazi yang begitu patuh dan setia kepada Hitler.
Setelah Hitler jatuh, para pengikutnya menjadi pemimpin-pemimpin yang otoriter.
"Ini terjadi karena ada interpretasi dimana mereka ingin saat dirinya berkuasa, maka orang lain harus bersikap seperti ketika mereka menjadi rakyat," katanya.
Aad bahkan mengatakan kalau model pemerintahan otoriterisme itu saat ini telah mulai ditunjukkan pemerintahan Jokowi dengan memenjarakan lawan-lawan politiknya, karena di satu sisi elektabilitas Jokowi terus turun, sementara di sisi lain elektabilitas penantangnya, Prabowo Subianto, terus naik.
"Orang-orang di belakang Jokowi panik karena takut Jokowi kalah di Pilpres 2019," tegasnya. (rhm)







