Jakarta, Harian Umum - sekitar 25 aktivis Jakarta yang tergabung dalam komunitas Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta pada 10-11 Oktober yang lalu bertandang ke Pulau Onrust, salah satu pulau berstatus cagar budaya di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.
Para aktivis itu berkunjung ke sana karena diajak oleh Tobaristani, direktur Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Untuk Demokrasi dan Keadilan (LPMDK) Jakarta.
"Sebagai orang yang lahir di Kepulauan Seribu, saya mengajak aktivis dari komunitas Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta ke Pulau Onrust untuk melihat langsung kondisi pulau bersejarah tersebut, dan ternyata banyak ide dan gagasan untuk Pariwisata Global Di kepulauan seribu, khususnya di Pulau Onrust," kata Toba melalui siaran tertulis, Senin,(13/10/2025).
Menurut Wikipedia, di masa kolonial Belanda, masyarakat sekitar menyebut Pulau Onrust sebagai Pulau Kapal karena di pulau ini sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Tak mengherankan kalau di pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi dari masa kolonial Belanda.
Di pulau itu ada sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust.
Nama 'Onrust' sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti 'Tidak Pernah Beristirahat' atau dalam bahasa Inggrisnya adalah 'Unrest'. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa nama Onrust tersebut diambil dari nama penghuni pulau yang keturunan bangsawan Belanda, yaitu Baas Onrust Cornelis van der Walck.
Pulau Onrust dan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten, akan tetapi kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dengan Jayakarta (sekarang Jakarta), dan tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut karena seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten, Belanda mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jayakarta, yakni Pulau Onrust.
Menurut Toba, mengapa ia mengundang para aktivis dari Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta untuk mendapat masukan dari mereka, karena Pulau Onrust harus dijaga dan dirawat dengan tulus dan mendapat perhatian lebih, bukan hanya dari Pemprov DKI Jakarta, akan tetapi juga dari pemerintah pusat agar pulau ini tetap eksis dan tidak tenggelam.
"Saya melihat dari waktu ke waktu, meski pulau ini berstatus Cagar Budaya, tidak banyak perubahan. Padahal, potensi wisatanya luar biasa. Pulau ini harus dipoles agar semakin menarik waisatawan dan membuat mereka betah selama berkunjung di pulau ini," katanya.
Hal-hal yang harus mendapat perhatian serius, menurut Toba, di antaranya jalan-jalan, toilet dan perlu adanya turap atau dinding di sekitaran pulau yang dapat mencegah terjadinya abrasi. Dinding atau turap itu hendaknya dapat pula difungsikan sebagai pedestrian bagi pengunjung.
Pulau Onrust yang seluas 8,22 hektare ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor 2209 Tahun 2015 tentang Penetapan Gugusan Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan Pulau Bidadari di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Ke-25 aktivis dari Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta yang berkunjung ke Pulau Onrust di antaranya Syaiful Jihad, Agung Nugroho, Muhammad Sulhy, Rio Ayudhia Putra, dan Boy Ade.
Berikut beberapa di antara masukan dari Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta setelah berkunjung ke Pulau Onrust:
1. Visi misi dan orientasi pembangunan Kepulauan Seribu harus jelas, sebenarnya mau dibawa ke mana dengan segala potensi dan tantangan yang ada.
2. Keseriusan pihak-pihak terkait, baik birokrasi, legislatif dan partisipasi masyarakat untuk membangun kesejahteraan warga harus menjadi prioritas, jangan ada regulasi yang membangkrutkan ekonomi masyarakat dan kebijakan yang membuat investor kabur.
3. Dibutuhkan instalasi air bersih (dengan jaringan bawah laut) yang humanis dan biaya tak terlalu besar, serta pengelolaan sampah yang lebih modern.
4. Sinergitas birokrasi di sektor perhubungan dan pariwisata harus baik dan konkret, karena penyediaan kapal-kapal antarpulau belum tersentuh.
5. Pemprov DKI Jakarta harus menjadikan Kepulauan Seribu sebagai salah satu destinasi andalan
6. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung harus punya staf yang khusus menangani Kepulauan Seribu guna memaksimalkan potensi di kepulauan tersebut
.
7. Masih diperlukan maksimalisasi potensi di setiap pulau di Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Onrust, agar juga dapat lebih banyak menarik wisatawan nasional dan internasional
(rhm)







