Jakarta, Harian Umum - Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPIRASI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas rencana pemerintah mengimpor 105.000 unit mobil pick-up dari India senilai sekitar Rp24,66 triliun.
"Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah kondisi industri otomotif nasional yang saat ini masih memiliki kapasitas produksi memadai," kata Presiden ASPIRASI Mirah Sumirat dikutip dari siaran tertulisnya, Rabu (24/2/2026).
Ia mengingatkan, industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis nasional yang memiliki rantai pasok luas, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dan melibatkan ribuan perusahaan komponen serta UMKM.
ASPIRASI menilai bahwa:
1. Jika kapasitas produksi nasional mencukupi, maka kebijakan impor dalam jumlah besar berpotensi mengurangi kesempatan kerja dan menekan produktivitas industri dalam negeri.
2. Dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh pekerja pabrikan, tetapi juga oleh pekerja di sektor komponen, logistik, dan usaha kecil menengah yang menjadi vendor.
3. Pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka urgensi dan dasar perhitungan ekonomi dari kebijakan impor tersebut.
ASPIRASI menyarankan pemerintah untuk melakukan hal-hal berikut:
• Mengutamakan produk dalam negeri dalam setiap pengadaan berskala besar.
• Memastikan kebijakan perdagangan tidak mengorbankan tenaga kerja nasional.
• Melibatkan perwakilan serikat pekerja dalam dialog kebijakan industri strategis.
"Sebagai organisasi pekerja nasional, ASPIRASI berkomitmen mengawal kebijakan ini demi menjaga keberlangsungan industri nasional dan perlindungan tenaga kerja Indonesia," pungkas Mirah. (rhm)


