Jakarta, Harian Umum - Langkah Presiden Prabowo Subianto memperkuat kerja sama strategis dengan Inggris tak hanya menyangkut soal pendidikan dengan akan membangun 10 universitas terbaik Inggris di Indonesia, tetapi juga untuk bidang maritim.
Pasalnya, dalam kunjungan kenegaraan Prabowo ke Inggris juga disepakati kerja sama pembangunan 1.500 kapal ikan modern.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, kerja sama ini mencerminkan visi besar Prabowo dalam membangun Indonesia sebagai kekuatan maritim regional yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing tinggi.
“Ini bukan hanya proyek kapal nelayan, ini adalah desain besar penguatan sistem maritim Indonesia—dari ekonomi rakyat, teknologi, hingga aspek pertahanan non-militer,” ujar Amir, Jumat (23/1/2026).
Inggris dikenal sebagai salah satu negara dengan sejarah panjang dan keunggulan teknologi dalam industri perkapalan. Mulai dari desain kapal, sistem navigasi, teknologi mesin, hingga efisiensi bahan bakar dan keselamatan pelayaran, Inggris memiliki reputasi global yang kuat.
Dalam kerja sama ini, kapal-kapal nelayan yang akan dibangun bukan kapal konvensional, melainkan kapal berteknologi modern yang dilengkapi sistem navigasi canggih, pengawetan hasil tangkap, serta kemampuan operasional di laut lepas yang lebih aman dan efisien.
Menurut Amir, pemilihan Inggris sebagai mitra menunjukkan kecermatan strategi Prabowo.
“Prabowo memilih mitra yang bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga unggul dalam teknologi. Inggris adalah simbol peradaban maritim dunia. Kolaborasi ini sangat strategis,” jelasnya.
Yang menjadi poin krusial, lanjut Amir, adalah keputusan bahwa kapal-kapal tersebut dibangun di Indonesia, bukan diimpor secara utuh. Artinya, kerja sama ini membuka ruang besar bagi transfer teknologi dan penguatan industri galangan kapal nasional.
Karenanya, ia meyakini bahwa pembangunan 1.500 kapal ikan tersebut diproyeksikan untuk:
1. Menyerap puluhan hingga ratusan ribu tenaga kerja lokal;
2. Menghidupkan industri baja, mesin, kelistrikan, dan logistik maritim; dan
3. Mendorong lahirnya SDM unggul di bidang teknologi perkapalan
“Ini adalah industrialisasi maritim berbasis rakyat. Nelayan diperkuat, industri bergerak, teknologi masuk, dan negara hadir,” kata Amir.
Transfer teknologi dari Inggris juga dipandang sebagai fondasi penting untuk kemandirian Indonesia dalam membangun armada lautnya sendiri di masa depan, baik untuk kepentingan ekonomi maupun keamanan.
Meski merupakan kapal nelayan, Amir menegaskan bahwa armada ini memiliki nilai strategis pertahanan, karena kapal nelayan modern yang beroperasi luas di perairan Indonesia akan dapat tmemperkuat kehadiran negara di laut, khususnya di wilayah rawan seperti perbatasan dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
“Dalam intelijen maritim, kehadiran nelayan modern adalah bentuk soft power. Mereka menjadi mata dan telinga negara di laut,” ujarnya.
Dengan sistem komunikasi dan navigasi yang baik, kapal-kapal ini dapat menjadi bagian dari ekosistem keamanan maritim nasional tanpa harus dimiliterisasi. Ini sejalan dengan konsep pertahanan semesta yang kerap ditekankan Prabowo.
Selain proyek kapal nelayan, kunjungan Prabowo ke Inggris juga menghasilkan komitmen investasi senilai sekitar Rp90 triliun. Dana ini diproyeksikan masuk ke berbagai sektor strategis, terutama maritim, industri, dan infrastruktur pendukung.
Amir menilai investasi tersebut akan memberi efek domino besar:
- Menggerakkan ekonomi daerah pesisir
- Meningkatkan daya beli nelayan dan keluarganya
- Memperkuat rantai pasok perikanan nasional
- Mengurangi ketergantungan impor hasil laut
“Ekonomi maritim adalah ekonomi rakyat. Jika nelayan kuat, konsumsi naik, stabilitas sosial terjaga,” ujarnya.
Dari perspektif geopolitik, kerja sama Indonesia–Inggris ini juga dibaca sebagai sinyal penting dalam dinamika Indo-Pasifik. Inggris sebagai kekuatan global, menunjukkan minat strategis memperkuat kemitraan dengan Indonesia—negara kunci di jalur perdagangan laut dunia.
“Indonesia sedang memainkan peran sentral. Prabowo memanfaatkan posisi geografis dan geopolitik Indonesia untuk menarik mitra strategis tanpa kehilangan kedaulatan,” kata Amir Hamzah.
Dengan memperkuat sektor maritim, Indonesia tidak hanya memperkuat ekonomi domestik, tetapi juga meningkatkan posisi tawar dalam percaturan global, terutama di kawasan yang sarat kepentingan ekonomi dan keamanan.
Kerja sama pembangunan 1.500 kapal ikan bersama Inggris menandai babak baru pembangunan maritim Indonesia. Bukan lagi sekadar jargon, konsep poros maritim kini diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang menyentuh nelayan, industri, teknologi, dan geopolitik sekaligus.
“Prabowo sedang membangun kekuatan Indonesia dari laut. Ini investasi jangka panjang untuk kedaulatan, kesejahteraan, dan stabilitas nasional,” pungkas Amir. (rhm)







