Jakarta, Harian Umum - Presiden Prabowo Subianto mengejutkan publik dengan rencana ambisiusnya untuk mendirikan 10 universitas bertaraf internasional asal Inggris di Indonesia.
Program ini diumumkan saat kunjungan Prabowo ke Inggris, di mana ia bertemu sejumlah pimpinan universitas ternama dan pembuat kebijakan pendidikan tinggi.
Menurut Pengamat Intelijen ntelijen dan Geopolitik Amir Hamzah, langkah ini bukan sekadar investasi pendidikan biasa, melainkan strategi jangka panjang pemerintah untuk memperkuat daya saing Indonesia di pentas global.
“Ini adalah investasi strategis untuk membangun sumber daya manusia berkualitas internasional. Lulusan dari institusi ini nantinya akan menjadi pionir dalam bidang medis, farmasi, sains, dan teknologi, yang akan menopang Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Amir kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).
Rencana pembangunan universitas ini difokuskan pada program studi kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta sains dan teknologi. Strategi ini diambil mengingat masih adanya kesenjangan kebutuhan tenaga medis di Indonesia, terutama dokter spesialis dan peneliti sains terapan. Pemerintah menargetkan lulusan yang siap pakai, dengan standar internasional yang mampu bersaing secara global.
Program link and match akan diterapkan secara ketat, menghubungkan universitas dengan industri dan sektor kesehatan nasional. Hal ini diprediksi mampu menyerap pangsa pasar kompetitif dan mempercepat pengembangan inovasi teknologi medis di Indonesia.
Amir menilai, langkah Prabowo juga memiliki dimensi geopolitik yang signifikan.
“Mendirikan universitas Inggris di Indonesia tidak hanya soal pendidikan, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral strategis. Ini membuka peluang kerja sama teknologi, penelitian medis, dan inovasi industri antara Indonesia dan Inggris, sekaligus mengurangi ketergantungan pada negara lain dalam hal pendidikan tinggi dan sumber daya manusia,” katanya.
Menurut Amir, Indonesia sedang menempatkan diri dalam peta persaingan global yang menuntut inovasi dan penguasaan ilmu pengetahuan.
“Dengan lulusan standar internasional, Indonesia akan memiliki kemampuan untuk bersaing dalam bidang teknologi medis, farmasi, dan penelitian ilmiah. Ini akan memperkuat posisi negara di ASEAN dan level global,” tambahnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan universitas ini akan menciptakan ekosistem pendidikan dan penelitian yang inovatif. Lulusan dari universitas ini diharapkan dapat:
1. Menjawab kebutuhan tenaga medis nasional yang terus meningkat.
2. Menjadi peneliti unggul dalam bidang farmasi dan sains terapan.
3. Menarik investasi asing di sektor pendidikan dan teknologi.
4. Menghasilkan lulusan yang siap bersaing di pasar kerja internasional.
Sementara itu, sejumlah pakar pendidikan menekankan pentingnya transfer teknologi dan kurikulum adaptif agar lulusan mampu menghadapi tantangan global, bukan sekadar meniru model pendidikan Inggris.
Mendirikan 10 universitas internasional bukan tanpa hambatan. Tantangan utama mencakup:
1. Ketersediaan dosen dan tenaga pengajar bersertifikasi internasional.
2. Infrastruktur modern yang mendukung riset dan laboratorium.
3. Regulasi pendidikan tinggi yang memungkinkan kurikulum asing diadaptasi di Indonesia.
4. Koordinasi dengan industri untuk program link and match yang efektif.
Namun, Amir meyakini bahwa pemerintah memiliki kapasitas politik dan jaringan internasional yang kuat untuk mengatasi tantangan ini.
“Dengan strategi yang tepat, Indonesia akan memiliki universitas yang bukan hanya unggul secara akademik, tapi juga strategis secara geopolitik,” katanya.
Rencana ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia diharapkan menjadi negara maju dengan kualitas SDM unggul dan inovatif. Universitas internasional ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk mengakses pendidikan kelas dunia tanpa harus meninggalkan tanah air.
Amir menekankan bahwa langkah ini menunjukkan kepemimpinan Presiden Prabowo dalam pendidikan sebagai investasi nasional.
“Pendidikan adalah fondasi utama kekuatan suatu bangsa. Dengan strategi ini, Indonesia tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kedaulatan ilmu pengetahuan dan teknologi,” pungkas Amir. (rhm)







