Jakarta, Harian Umum- Politisi Partai Demokrat habis-habisan mencela pernyataan Presiden RI ke-7 yang juga Capres petahana di Pilpres 2019, Joko Widodo alias Jokowi, karena menggunakan kalimat "kufur nikmat" bagi rakyat yang tidak mensyukuri pertumbuhan ekomoni yang hanya 5,17% pada 2018/lalu.
"Pertumbuhan ekonomi 7% tidak sulit. Kata bapak ini di tahun 2014. Sangat meyakinkan. Kini, 2018, Bapak yang sama bilang jangan "kufur nikmat" atas pertumbuhan yang mentok di 5%. Sungguh tak kenal malu," cemooh Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik seperti dikutip dari Twitter pribadinya, @RachlandNashidik, Jumat (8/2/2019).
Kritik yang tak kalah kencang datang dari Kadiv Advokas dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean.
"Soal kufur nikmat, saya justru melihat @jokowi lah yang kufur nikmat sebagai presiden. SBY mewariskan kondisi bangsa yang baik, aman, damai dan ekonomi tumbuh serta PDB naik tinggi. Tapi Jokowi selalu menyalahkan masa lalu seolah dirinya lebih hebat dari semua presiden," katanya melalui akun Twitter-nya, @Ferdinand_Haean.
Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ini bahkan mengatakan begini: "Menyuruh orang mensyukuri kegagalan sejatinya adalah kufur nikmat. Jokowi yang janjikan ekonomi tumbuh 7%, dengan narasi tambahan TIDAK SULIT2 AMAT. Setelah gagal, rakyat disuruh mensyukurinya dan minta memilihnya lagi. Mestinya bersyukur karena sudah dikasih 1 periode".
Untuk diketahui, sejumlah media memberitakan bahwa Presiden Jokowi menyambut baik laporan Badan Pusat Statistik (BPS) soal pertumbuhan ekonomi 2018 yang mencapai 5,17%.
Jokowi mengatakan, capaian ini merupakan nikmat yang patut disyukuri karena ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah gejolak ekonomi dunia, termasuk juga angka inflasi yang tetap terkendali di level 3,13% sepanjang 2018.
"Kita ini sudah masuk ke dalam grup G20, yang PDB-nya kita juga lebih US$ 1 triliun, kemudian inflasinya 3,13%, juga inflasi yang rendah. Ini patut kita syukuri, kita jangan kufur nikmat, kalau diberi kenikmatan pertumbuhan ekonomi yang di atas 5% Alhamdulillah disyukuri," katanya usai menghadiri Perayaan Imlek Nasional 2019 di JIEXpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (7/2/2019).
Menurut Capres nomor urut 01 ini, angka pertumbuhan 5,17% itu lebih baik jika dibandingkan negara-negara lain anggota G20.
"Ya patut kita syukuri Alhamdulillah, 5,17% itu sebuah angka yang baik kalau dibandingkan negara-negara lain. Bandingkan dengan negara-negara lain, yang G20 lho ya," katanya.
Mantan Walikota Solo itu bahkan mengatakan, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, pemerintah mengandalkan dua jurus.
Pertama, mendorong ekspor sebanyak-banyaknya sekaligus mengurangi impor, dan juga mendorong barang-barang substitusi impor agar diproduksi di dalam negeri.
Kedua, investasi yang sebesar-besarnya sehingga Indonesia terus memperbaik dani menyederhanakan perizinan-perizinan yang ada di pusat maupun di daerah.
Pertumbuhan ekonomi di angka 5,17% ini sebenarnya turun drastis dibanding saat era Presiden SBY (2004-2009 dan 2009-2014), karena kala itu pertumbuhan ekonomi sempat menyentuh anga 6%. Bahkan di era Orde Baru menyentuh 7%. (rhm)







