Jakarta, Harian Umum - Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 telah menewaskan 600 lebih warga Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dan membuat banyak gedung hancur serta infrastruktur porakporandra.
Namun, Iran memberi perlawanan sengit dengan menyerang aset-aset AS, termasuk angkalan militer, yang ada di sejumlah negara di Timur, seperti Bahrain, Kuwait dan Uni Emirate Arab, serta membombardir Israel dengan roket dan drone.
Iran tidak sendirian, karena meski China dan Rusia yang selama ini menjadi sekutu Iran belum turun tangan, akan tapi Yaman dan Hezbollah di Lebanon telah melibatkan diri, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa konflik ini akan meluas ke seluruh kawasan Teluk, bahkan memicu perang yang jauh lebih besar.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah meminta pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan, karena setiap kali terjadi perang besar di Timur Tengah, hampir selalu menimbulkan efek rambatan (spill over effect) ke kawasan lain, termasuk Asia Tenggara.
“Dalam konflik terbuka seperti ini, yang bergerak bukan hanya militer reguler, tetapi juga operasi intelijen, perang informasi dan operasi psikologis. Indonesia harus waspada,” kata Amir dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Menurut dia, dinamika konflik yang melibatkan Iran, AS dan Israel tidak bisa dipandang sekadar sebagai perang konvensional, tetapi sebagai perang multidimensi yang mencakup ranah siber, propaganda global, hingga potensi destabilisasi di negara-negara yang memiliki sensitivitas politik dan keagamaan.
Dalam perspektif intelijen, Amir menjelaskan, konflik besar sering kali diikuti oleh:
1. Operasi false flag, yakni operasi terselubung yang dirancang untuk mengalihkan tudingan atau memprovokasi pihak lain.
2. Perang informasi (information warfare) melalui media dan media sosial untuk membentuk opini publik global.
3. Provokasi terhadap simpul-simpul radikal di berbagai negara guna menciptakan instabilitas tidak langsung.
Amir menyinggung polemik serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi dalam beberapa hari yang lalu di mana media pemerintah Iran seperti Yasmin News membantah keterlibatan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi, termasuk milik Saudi Aramco.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga membantah keterlibatan resmi negaranya dalam sejumlah tudingan operasi lintas batas yang diklaim sebagai upaya destabilisasi kawasan Teluk.
“Apalagi pihak militer Saudi mengklaim telah menangkap anggota Mossad yang diduga meledakkan Aramco,” ujar Amir.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki beberapa faktor yang membuatnya perlu waspada:
1. Faktor Geopolitik.
Indonesia bukan pihak dalam konflik, namun memiliki hubungan diplomatik dengan banyak negara yang terlibat. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, dinamika konflik Iran–Israel–AS berpotensi memicu reaksi emosional publik.
2. Faktor Ideologis
Konflik yang dikemas dalam narasi agama berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk memperkuat propaganda dan perekrutan.
3. Faktor Target Simbolik
Fasilitas atau simbol negara-negara yang terlibat konflik bisa saja dijadikan target oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan ketegangan.
Intelijen asing khususnya CIA dan Mossad pandai dalam memunculkan kelompok teror.
“Secara historis, negara-negara besar memang memiliki kapasitas operasi intelijen global, termasuk operasi CIA dan Mossad dalam membangkitkan sel teroris di Indonesia,” ujarnya.
Secara geopolitik, Amir melihat dampak paling nyata bagi Indonesia justru berada di sektor energi dan stabilitas ekonomi global.
Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia. Apalagi karena Iran telah menutup Selat Hormuz, selat yang selama ini berkontribusi terhadap seperlima kebutuhan minyak duniat. Jika harga minyak dunia melonjak, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan terdampak pada subsidi energi dan stabilitas fiskal.
“Perang di Timur Tengah selalu berdampak pada harga minyak. Ketika energi terguncang, efeknya merembet ke inflasi, stabilitas sosial, bahkan politik domestik,” kata Amir.
Dalam pandangannya, Amir melihat ancaman keamanan di Indonesia selama ini lebih banyak bersumber dari jaringan domestik dan regional yang memiliki akar ideologis lokal, meskipun narasi global sering menjadi pemicu.
Amir menyarankan beberapa langkah strategis:
1. Penguatan deteksi dini oleh intelijen nasional.
2. Pengawasan ketat terhadap arus propaganda digital.
3. Koordinasi diplomatik aktif untuk menjaga posisi netral Indonesia.
4. Edukasi publik agar tidak mudah terprovokasi oleh disinformasi global.
“Yang paling berbahaya bukan hanya bom atau senjata, tetapi disinformasi yang memecah belah masyarakat,” tegasnya.
Konflik Iran–AS–Israel adalah konflik geopolitik besar yang memiliki dimensi militer, ekonomi dan intelijen. Bagi Indonesia, ancaman langsung mungkin tidak bersifat militer, tetapi lebih pada dampak ekonomi, polarisasi sosial dan potensi eksploitasi narasi konflik oleh kelompok ekstremis.
“Indonesia harus tenang, rasional dan berbasis data. Jangan ikut terseret dalam perang narasi global. Kedaulatan dan stabilitas nasional harus menjadi prioritas utama,” pungkas Amir. (rhm)







