Jakarta, Harian Umum - Harga minyak dan gas global melonjak tajam setelah Islamic Revolutionary Guard Corps atau Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menutrup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026) atau pada hari pertama Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Kenaikan terjadi karena penutupan Selatan Hormuz membuat distribusi untuk seperlima pasokan minyak global, terganggu.
Al Jazeera, Rabu (3/3/2026), melaporkan harga minyak dunia melonjak dari 73 dolar per barel menjadi 79,40 dolar per barel pada Senin (1/3/2026), dan hari ini, Rabu (3/3/2026) telah menyentuh 81 dolar per barel.
Penasehat Komandan IRGC, Brigadir Jenderal Ebrahim Jabari mengancam akan membakar semua kapal yang berani melewati Selat Hormuz setelah mereka menutupnya.
“Kami menunggu setidaknya (harga minyak dunia) mencapai 200 dolar AS per barel. Selat Hormuz ditutup. Para pahlawan kami di Angkatan Laut dan Angkatan Darat Korps Garda Revolusi Islam akan membakar kapal-kapal yang ingin melewati selat ini,” katanya di televisi pemerintah, dikutip Al Jazeera.
Tak hanya itu, IRGC juga mengancam akan melakukan tindakan yang lebih ekstrem.
“Kami juga akan menargetkan pipa minyak mereka di wilayah tersebut, dan kami tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari wilayah (Timur Tengah) ini sampai kami menekan musuh. Amerika memiliki utang ratusan ribu miliar dolar, dan mereka haus akan minyak di wilayah ini. Mereka tidak akan mendapatkan setetes pun," kata Ebrahim.
Penutupan Selat Hormuz membuat perusahaan minyak milik Qatar menangguhkan semua produksi gas alam cair. Apalagi karena dua fasilitasnya telah diserang IRGC.
Layanan pelacakan kapal Kpler melaporkan bahwa operator komersial, perusahaan minyak besar, dan perusahaan asuransi secara efektif telah menarik diri dari Selat Hormuz.
Namun, Cormack McGarry, direktur intelijen maritim dan layanan keamanan di Control Risks, mengatakan bahwa penutupan total selat oleh Iran akan berarti mereka "memperketat jerat di lehernya sendiri".
“Jika mereka menyerang pelayaran, mereka mendorong negara-negara Teluk untuk bergabung dalam perang, dan itu adalah langkah besar bagi Iran untuk melakukan itu,” katanya.
“Gagasan bahwa mereka dapat memengaruhi penutupan selat yang berkelanjutan dalam jangka panjang sama sekali tidak mungkin. Saya lebih khawatir tentang rantai pasokan regional," imbuhnya. (rhm)







