Jakarta, Harian Umum- Namanya lebih dikenal sebagai aktris yang sempat membintangi sejumlah film layar lebar dan sinetron, namun dia juga pernah bersinar di pentas olahraga nasional dan regional sebagai seorang atlet loncat indah.
Siti Sukatminah Brodjoewirjo, begitulah namanya. Wanita kelahiran Yogyakarta pada 8 Maret 1937 ini populer dengan nama panggung Mien Brodjo. Debutnya di dunia akting diawali dari film Tangan Tangan Jang Kotor (1963), dan terakhir Setetes Noda Manis (1994).
Sementara sinetron yang dibintanginya adalah Sartika (1989-1991) dan Noktah Merah Perkawinan (1996).
"Sekarang, di usianya yang sudah memasuki 81 tahun, Beliau nampak masih bugar, sehat jasmani dan rohani," ujar Ketua Yayasan Perguruan Islam (YPI) As Sa'adah, Munir Arsyad, kepada harianumum.com via pesan WhatsApp, Selasa (10/4/2018).
Munir bertandang ke rumah mantan atlet dan aktris ini di Jalan Suryo Wijaya MJ 1 No 433, Yogyakarta, pada Senin (9/4/2018). Ia mengunjunginya karena sebagai salah seorang penggemar, ia ingin sekali bertemu dengannya.
"Kebetulan saya sedang di Yogyakarta. Jadi, sekalian singgah ke rumahnya," imbuh dia.
Bendahara Umum Bamus Betawi ini mengaku sangat terkesan dengan kondisi fisik Mien yang prima. Apalagi karena meski sudah sepuh, Mien melakukan aktivitasnya sendiri, tanpa bantuan orang lain.
"Hari-harinya sekarang dihabiskan bersama anak-anak dan cucu-cucu, serta menekuni kegemarannya melukis," imbuh dia.
Di masa kanak-kanak dan remajanya, Mien termasuk anak yang tergolong beruntung, karena meski kala itu masih era penjajahan, ayahnya adalah seorang mantri pamicis untuk Pemerintah Kolonial Belanda. Mantri pamicis adalah jabatan setingkat kepala Dinas Perpajakan, sehingga praktis kala itu Mien dan keluarganya hidup berkecukupan.
Saat Jepang datang dan menjajah Indonesia, ayah Mien kehilangan pekerjaan dan kehidupan mereka berubah drastis. Namun meski kondisi ini membuat Ibunda Mien ikut mencari nafkah dengan berjualan kain batik, kehidupan masa kecil Mien tetap indah dan menyenangkan, sehingga ia tergolong anak yang bahagia.
Ketertarikan Mien pada seni telah muncul sejak belia, namun orangtua Mien tak setuju anaknya memasuki sekolah seni karena percaya masa depan Mien akan suram jika menjadi seniman.
Tak ingin larut dalam kesedihan, setamat SMP pada 1958, Mien melanjutkan ke Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (SGPD), yakni sekolah menengah tingkat atas yang mendidik siswanya menjadi tenaga pengajar atau guru di bidang olahraga dan kesehatan jasmani, dengan masa pendidikan selama empat tahun.
Di sekolah ini lah karir Mien di cabang loncat indah bermula, karena selama menjalani pendidikan di SGPD, ia selalu mendapat nilai yang memuaskan, terutama di bidang senam dan renang.
Pada 1960, saat masih kuliah di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Yogyakarta dan pemerintah sedang mencari bibit atlet loncat indah untuk disertakan dalam Asian Games ke-4 di Jakarta pada 1962, Mien mengikuti seleksi, dan lolos. Ia masuk training centre (TC) di Bandung selama 2 tahun.
Dalam buku biografinya yang berjudul 'Setelah Angin Kedua', Mien bercerita kalau ibunya tak menyetujui keputusannya ini, sementara sang ayah mendukung penuh. Saat akan berangkat ke Bandung, Mien diantar oleh anak didik tempat dirinya mengajar di SMP Pendidikan, hingga di Stasiun Kereta Tugu.
Enam bulan setelah ditempa di TC Bandung, Mien dan para calon atlet yang lain mulai menjalani pertandingan-pertandingan guna mengetahui kemajuan yang telah dicapai. Pertandingan ini dilakukan di berbagai daerah, antara lain Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur.
Setahun sebelum Asian Games ke-4, atau pada 1961, Mien beserta atlet renang dan loncat indah yang lain dibawa ke Filipina untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan atlet setempat. Hasilnya, Mien meraih juara dua, sementara Lanny Gumulya, rekannya, meraih juara pertama.
Sepulang dari Filipina, Mien mewakili daerahnya untuk bertanding di PON ke-6 di Bandung, dan meraih medali perak.
Saat kemudian berlaga di Asian Games ke-4 pada 1962, Mien tak mendapatkan medali karena hanya menjadi juara keempat, namun sempat didaulat menjadi juri loncat indah di Asian Games 1973 di Teheran.
"Bu Mien memiliki perjalanan karir yang luar biasa. Lukisan-lukisannya yang beraliran naturalis juga sangat indah. Ia adalah inspirasi bagi semua orang tentang bagaimana memanfaatkan multitalenta yang dikaruniai Allah SWT, dan menjadi orang yang berhasil," kata Munir.
Ia berharap saat pembukaan Asian Games ke-18 digelar di Jakarta pada Agustus 2018 mendatang, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengundang Bu Mien agar generasi zaman now tahu bahwa saat ini Indonesia memiliki mantan atlet yang juga mantan aktris yang kini menekuni profesi sebagai pelukis. Dialah Mien Brodjo. (rhm)






