Jakarta, Harian Umum - Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia mengatakan lebih dari 200 tentara Amerika telah tewas atau terluka akibat serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah.
"Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia mengumumkan pada Sabtu bahwa serangan balasan Iran yang dahsyat terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh wilayah selama 24 jam terakhir telah menimbulkan kerugian besar pada pasukan dan komandan tentara AS yang agresif," kata kantor berita semi resmi Iran, Tasnim, dikutip Minggu (8/3/2026).
Ia mencatat bahwa serangan Iran, yang dilakukan di bawah Operasi True Promise 4, juga telah menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada infrastruktur dan sumber daya militer AS di kawasan Teluk.
"Menurut juru bicara Iran, 21 tentara Amerika tewas dan banyak lainnya terluka di Armada ke-5 AS di wilayah tersebut, sekitar 200 warga Amerika telah tewas atau terluka di Pangkalan Udara Al Dhafra, dan sebuah kapal tanker minyak milik AS telah menjadi sasaran di bagian utara Teluk Persia," imbuh Tasnim.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia adalah subdivisi dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran yang bertugas merancang dan mengatur operasi yang melibatkan berbagai unit militer Iran.
Amerika Serikat dan rezim Zionis telah melancarkan kampanye militer mematikan terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026 dan menewaskan 201 orang lebih, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei
Serangan itu membuat Angkatan Bersenjata Iran melakukan serangan balasan yang keras, menghantam target AS dan Israel di wilayah pendudukan dan negara-negara regional dengan rentetan rudal dan drone.
Sementara itu, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, mengklaim bahwa pihakanya telah menangkap tentara Amerika Serikat sejak pecahnya perang pada pekan lalu.
Pernyataan itu disampaikan Larijani melalui akun X-nya, Sabtu (7/3/2026), di mana dalam cuitan tersebut, Larijani menyiratkan bahwa AS menyembunyikan penangkapan tersebut karena As mengklaim bahwa para tentara itu telah tewas dalam pertempuran.
'Terlepas dari upaya mereka yang sia-sia, kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat mereka sembunyikan terlalu lama," kata Larijani, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (8/3/2026).
Namun, militer AS dengan cepat membantah klaim tersebut.
“Rezim Iran melakukan segala yang mereka bisa untuk menyebarkan kebohongan dan menipu. Ini adalah contoh nyata lainnya,” kata Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins.
Juru bicara Central Command AS (CENTCOM) bahwa memberikan bantahan yang lebih keras lagi.
“Klaim rezim Iran tentang penangkapan tentara Amerika adalah contoh lain dari kebohongan dan penipuan mereka,” kata dia..
Setidaknya enam anggota angkatan bersenjata AS telah tewas sejak perang dimulai pada 28 Februari, setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyebut kampanye militer tersebut sebagai "Operasi Epic Fury". (man)







