Teheran, Harian Umum - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan menghantam Iran lebih keras, bahkan akan melakukan penyerangan dengan skala penghancuran total, membuat Iran semakin sangar.
Terbukti, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dengan tegas menolak semua usulan gencatan senjata, dan menekankan perlunya menghadapi agresor secara tegas untuk mencegah ancaman di masa depan terhadap Iran.
"Kami tentu tidak mencari gencatan senjata; kami percaya bahwa kami harus menyerang agresor agar mereka mendapat pelajaran dan tidak pernah berpikir untuk melakukan agresi terhadap Iran tercinta kami lagi," kata Qalibaf dalam sebuah unggahan di akun X-nya, dikutip dari Tasnim News Agency, Rabu (11/3/2026).
Ia mencatat bahwa rezim Zionis merupakan rezim yang menggunakan siklus yang sangat memalukan dalam melakukan agresi, yaitu "perang—negosiasi—gencatan senjata—dan kemudian perang lagi" untuk mengkonsolidasikan dominasinya.
"Kami mencatat siklus ini," tegasnya.
Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 dan menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei dan beberapa komandan militer senior Iran, plus warga sipil. Serangan itu melibatkan serangan udara ekstensif terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Angkatan Bersenjata Iran merespon dengan melakukan operasi pembalasan, menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.
Hingga kini, Rabu (11/3/2026), perang masih berlangsung dengan Iran yang terus menggempur Israel dan aset-aset AS di sejumlah negara Teluk.
Pangkalan minyak, pangkalan militer, bahkan bunker tempat perlindungan warga Israel, menjadi sasaran.
Presiden AS melalui akun Truth Social miliknya, meminta Iran menyerah tanpa syarat, akan tetapi Iran menolak dan bahkan menyatakan sanggup berperang hingga 6 bulan ke depan, sehingga Trump mengancam akan menghantam Iran lebih keras, bahkan dengan skala penghancuran total.
Laporan media di Timur Tengah mengindikasikan kalau Iran berada di atas angin karena mempunyai menghancurkan Tel Aviv sebagaimana Israel menghancurkan Gaza.
Parahnya kondisi Tel Aviv membuat pemerintah Israel melarang adanya publikasi terkait kondisi Ibukota negaranya itu, dan juga kota-kota lainnya yang telah dibombardir Iran.
Terkahir, Tasnim melaporkan kalau IRGC telah menghancurkan pusat komunikasi satelit Ha'ela milik Israel yang berada di selatan Tel Aviv. (man)







