Washington, Harian Umum - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengamuk karena serangan balasan Iran atas serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), menewaskan tiga tentaranya.
"Presiden AS Donal Trump telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut hingga semua tujuan Washington tercapai, dan berjanji untuk membalas kematian tiga tentara Amerika," kata Al Jazeera, Senin (2/3/2026).
Dalam sebuah pernyataan, US Central Command (CENTCOM) atau Pusat Komando AS, mengatakan bahwa tiga tentaranya tewas dan lima lainnya luka parah dalam serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Seperti diketahui, serangan itu memicu serangan balasan dari Iran dengan target semua aset AS, termasuk pangkalan militernya, yang berada di sejumlah negara di Timur Tengah. Apalagi karena serangan AS dan Israel itu juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Keterangan CENTCOM disampaikan Minggu (1/3/2026) saat AS dan Israel melancarkan serangan udara kedua ke Iran.
“Tiga tentara kami tewas dan lima lainnya mengalami cedera ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak — dan sedang dalam proses dipulangkan. Operasi tempur utama terus berlanjut dan upaya respons kami (atas serangan balasan Iran) sedang berlangsung,” kata CENTCOM.
Pusat Komando AS itu mengakui bahwa situasi masih belum pasti.
"Jadi, sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga (tentara yang tewas dan terluka), kami akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas para prajurit kami yang gugur, hingga 24 jam setelah kerabat terdekat diberitahu,” tambahnya.
Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan di seluruh Iran pada hari Minggu, hari kedua dari kampanye yang menurut Presiden AS Donald Trump bertujuan untuk menggulingkan pemerintah Iran dari kekuasaan. Iran telah menanggapi serangan tersebut dengan serangan yang menargetkan aset AS di seluruh Timur Tengah, meningkatkan kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan pada hari Minggu bahwa mereka telah menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan empat rudal balistik.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan Iran tidak menyebabkan kerusakan apa pun.
CENTCOM mengatakan di akun X-nya bahwa kapal induk tersebut “terus meluncurkan pesawat untuk mendukung kampanye CENTCOM tanpa henti untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran.
CENTCOM mengeklaim bahwa militer AS telah melakukan serangan terhadap lebih dari 1.000 target Iran sejak memulai serangannya. Menurut lembar fakta, target tersebut termasuk markas besar Garda Revolusi Iran dan kapal selam angkatan laut Iran.
Reporter Al Jazeera Alan Fisher melaporkan dari Washington DC bahwa kematian pasukan AS akan "mengubah banyak hal bagi Amerika Serikat".
“Donald Trump, tentu saja, berkampanye dengan gagasan menjadi presiden yang tidak akan membawa AS ke dalam perang. Dia mengatakan bahwa (mantan Wakil Presiden AS) Kamala Harris, jika terpilih, akan memulai perang dengan Iran yang akan menyebabkan Perang Dunia III,” kata Fisher.
Ia menambahkan, ada banyak politikus Partai Demokrat yang saat ini menginginkan debat darurat di Kongres tentang operasi AS dan Israel di Iran, karena yang ingin mereka ketahui adalah; apa rencana pemerintahan Trump? Ke mana arahnya? Berapa lama (serangan) ini akan berlangsung?
"Dan pertanyaan besarnya, tentu saja, adalah berapa banyak lagi personel militer yang akan berisiko,” imbuh Fisher.
Namun, Trump mengatakan kepada Fox News pada hari Minggu bahwa segala sesuatunya “berjalan cepat” selama operasi AS di Iran setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan anggota-anggota penting lainnya dari jajaran politik.
“Saya tidak khawatir tentang apa pun, dan semuanya berjalan dengan baik,” katanya.
Ia meyakini bahwa Iran akan memiliki senjata nuklir dalam waktu dua minggu jika bukan karena serangan AS terhadap fasilitas nuklir itu.
"Jika bukan karena hal itu, serangan ini tidak akan mungkin terjadi,” tegas Trump.
Iran telah bersumpah akan membalas kematian Khamenei akibat serangan AS-Israel yang hingga kini masih berlangsung terhadap negaranya. Menteri Luar Negeri Abbas Argachi bahkan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tidak ada “batas bagi Iran untuk membela diri”. (rhm)







