Jakarta, Harian Umum- Pada 6 April 2018 silam namanya masuk daftar 14 tokoh yang dianugerahi gelar Anggota Kehormatan oleh Forum Pemuda Betawi (FPB).
Anugerah yang diberikan dalam acara yang dihelat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, itu tentu menjadi salah satu catatan yang membanggakan dalam sejarah kehidupan Kepala Satpol PP Yani Wahyu. Apalagi karena orang yang mendapat anugerah ini biasanya kemudian menapaki karir yang lebih cemerlang. Contohnya adalah pengusaha Sandiaga Uno.
Pada 2016, bos PT Saratoga Investama Sedaya Tbk ini dianugerahi gelar Anggota Kehormatan oleh FPB. Setahun kemudian, ia memenangi Pilkada DKI Jakarta bersama Anies Baswedan, dan menjadi wakil gubernur. Sekarang, kita tahu, Sandiaga menjadi Cawapres Prabowo Subianto, dan akan bertarung di Pilpres 2019 melawan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.
Jika Prabowo-Sandiaga menang, maka Sandiaga adalah Anggota Kehormatan FPB yang menjadi wakil presiden. Sungguh fantastis.
"Saya tentu senang sekali ketika diberitahu bahwa saya mendapat penghargaan sebagai Anggota Kehormatan FPB. Buat saya, ini sesuatu yang sangat tidak disangka-sangka. Sangat surprise," kata Yani saat berbincang dengan harianumum.com di ruang kerjanya di Kompleks Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (16/8/2018).
Yani mengakui, ia mengenal FPB sebagai salah satu Ormas sayap Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, sebuah Ormas besar dimana seluruh etnis Betawi berhimpun untuk menunjukkan eksistensinya, memajukan Jakarta sebagai tanah kelahirannya, dan memajukan seni budaya dan tradisi yang mereka miliki.
Meski demikian, Yani mengaku tidak terlalu terkejut jika ia mendapatkan anugerah itu, karena ia juga memiliki darah Betawi di dalam tubuhnya.
"Saya punya darah Betawi dari pihak ibu, karena ibu saya dan keluarganya lahir dan besar di Kampung Asem, Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Kalau bapak saya orang Purwokerto, tapi sejak remaja juga sudah tinggal di Jakarta," jelasnya.
Mantan lurah Penjaringan, Jakarta Utara, ini tak mengelak bahwa darah Betawi dalam dirinya membuat dia juga punya kepedulian terhadap semua hal yang terkait dengan ke-Betawi-an, sehingga ketika dianugerahi gelar Anggota Kehormatan FPB, ia merasa anugerah itu sebagai bentuk pengakuan atas ke-Betawi-annya itu.
"Tapi anugerah itu juga membuat saya terpacu untuk bisa berbuat lebih banyak agar Betawi benar-benar menjadi tuan rumah di Jakarta," imbuhnya.
Ketika ditanya apakah mudah merealisasikan tekadnya itu? Yani menjawab bahwa dirinya bersyukur saat ini berada pada posisi jabatan yang strategis di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.
"Sebagai Kepala Satpol PP, saya adalah pengawal dan penegak peraturan yang diterbitkan Pemprov dan DPRD, baik dalam bentuk Perda, Pergub, SK Gubernur maupun Instruksi Gubernur. Pemprov dan DPRD telah menerbitkan Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, dan Pemprov telah menerbitkan Pergub Nomor 229 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pelestarian Budaya Betawi. Nah, kedua peraturan itu sekarang sedang saya kawal agar terimplementasi dengan baik karena bagaimana pun Jakarta merupakan aset warga Betawi," katanya.
Ia salut melihat Bamus Betawi dan Ormas-Ormas sayapnya yang cukup agresif dalam melaksanakan Perda dan Pergub itu, sehingga berkat mereka, saat ini nuansa Betawi sudah semakin dapat dirasakan di seluruh pelosok Jakarta, karena gerakan mereka membuat ikon-ikon Betawi kini menjadi sangat mudah ditemui.
"Kalau Anda ke gedung pemerintahan dan mal, Anda akan menemukan ondel-ondel dan kembang kelapa di sana, serta ornamen bernuansa Betawi seperti gigi balangi. Ornamen ini juga menghiasi gedung DPRD DKI," katanya.
Ikon Betawi yang lain yang kian mudah ditemui adalah bir pletok dan kerak telor.
Dalam setiap pelaksanaan Jakarta Fair atau event-event yang diselenggarakan pemerintah maupun mitranya, jelas Yani, kuliner khas Betawi ini selalu diberi ruang untuk tampil, sehingga kini bir pletok dan kerak telor termasuk menu yang disukai masyarakat karena rasanya yang khas.
"Saya optimis, ke depan Jakarta benar-benar akan menjadi Kota Betawi, kota yang kental oleh nuansa budaya, seni dan tradisinya sendiri seperti kota-kota lain yang juga memiliki suku asli," tegasnya.
Meski demikian Yani mengakui, masih banyak yang perlu dibenahi dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Setidaknya, agar seni budaya yang agung itu hadir di tengah publik dalam posisi yang terhormat.
"Kalau melihat Ondel-ondel keliling, perasaan saya tak nyaman. Apalagi karena dari info yang saya dapat, tidak semua yang terlibat dalam Ondel-ondel keliling itu, baik yang menjadi Ondel-ondel maupun pemain musiknya, merupakan warga Betawi. Di antara mereka ada warga pendatang," katanya.
Ia pun berharap pihak terkait, baik Bamus, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) maupun Dinas Sosial, melakukan pembinaan, dan kemudian membantu mereka untuk mendapatkan tempat di tempat-tempat wisata seperti di Monas, Kota Tua, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Taman Margasatwa Ragunan, sehingga mereka dapat menjadi bagian dari agenda pengelola tempat wisata dalam menghibur para pengunjungnya.
"Kalau setelah dibina dan diberi tempat, mereka tetap berkeliling, maka Satpol PP akan bertindak tegas," pungkasnya. (rhm)







