Washington, l Harian Umum - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (10/4/2025) dini hari WIB mengumumkan menghentikan sementara pemberlakuan skema tarif timbal balik (reciprocal tariff) yang lebih tinggi untuk selama 90 hari sebagai tanggapan atas pendekatan dari puluhan negara.
Meski demikian, bea masuk atas impor dari China akan tetap dinaikkan menjadi 125% karena "kurangnya rasa hormat" dari pemerintah Beijing.
"Berdasarkan fakta bahwa lebih dari 75 Negara telah memanggil Perwakilan Amerika Serikat, termasuk Departemen Perdagangan, Keuangan, dan (Perwakilan Dagang AS) untuk merundingkan solusi atas pokok bahasan yang sedang dibahas terkait Perdagangan, Hambatan Perdagangan, Tarif, Manipulasi Mata Uang, dan Tarif Non Moneter, dan bahwa Negara-negara ini tidak, atas saran saya yang kuat, membalas dengan cara, bentuk, atau cara apa pun terhadap Amerika Serikat, saya telah mengesahkan Penghentian selama 90 hari, dan Tarif Timbal Balik yang diturunkan secara substansial selama periode ini, sebesar 10%, yang juga berlaku segera," tulis Trump di media sosial Truth dikutip dari New York Post, Kamis (10/4/2025).
Berdasarkan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China kepada Pasar Dunia, lanjut Trump, pihaknya akan menaikkan Tarif yang dikenakan Amerika Serikat kepada China menjadi 125%, yang akan berlaku dengan segera.
"Pada suatu saat, mudah-mudahan dalam waktu dekat, Tiongkok akan menyadari bahwa hari-hari menipu AS dan Negara-negara lain tidak lagi dapat dipertahankan atau diterima," pungkas Trump.
Seperti diketahui, kebijakan pengenaan tarif impor Trump mengguncangkan perekonomian global, terindikasi dari rontoknya bursa saham dan nilai tukar mata uang, termasuk di Indonesia. Apalagi karena dari sekitar 100 negara yang terkena kebijakan tersebut, 15 negara dikenai tarif impor resiprokal yang nilainya jauh di atas rata-rata yang 10%. Ke-15 negara itu masuk daftar Dirty 15, dan Indonesia masuk dalam daftar itu yang dikenai tarif impor resiprokal sebesar 32%.
China, Kanada dan Uni Eropa melawan kebijakan itu, sementara negara lain, termasuk Indonesia, lebih memilih jalur kompromistis.
Menurut Bloomberg, dari 75 negara yang disebut Trump telah meminta pembicaraan ulang, ada 56 negara yang secara spesifik tercantum dalam daftar Gedung Putih sebagai pihak yang dikenai tarif balasan atau tarif resiprokal dengan besaran bervariasi.
Indonesia termasuk salah satu negara yang menerima tarif resiprokal sebesar 32%. Namun, selama masa penundaan, tarif yang berlaku sementara turun ke level tarif dasar, yakni 10%
Kebijakan Trump ini langsung disambut positif oleh pelaku pasar bursa, sehingga saham-saham menguat.
Di Indonesia, IHSG yang anjlok 7% pada penutupan perdagangan Selasa, pada Kamis pagi ini menurut data RTI Business, dibuka di level 6.270,61 karena menguat 262,09 poin atau melejit 4,39% ke level 6.230,08. (rhm)


