Jakarta, Harian Umum - Forum Tanah Air (FTA) sebuah gerakan pemikiran aktivis (ekstra parlementer) yang didirikan para diaspora Indonesia di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2020, pada Sabtu (25/5/2024) menggelar pertemuan lintas tokoh di salah satu hotel di Jakarta Timur.
Belasan tokoh politik, agama, akademisi dan aktivis peduli demokrasi hadir di acara ini, antara lain mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, Pemerhati Politik dan Kebangsaan Rizal Fadillah, Dosen Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun, Ekonom Ichasanuddin Noorsy, Epidemiolog Tifauzia Tyassuma, Pakar Hukum Tatanegara Refly Harun, mantan Penyidik KPK Novel Baswedan, akademisi yang juga mantan Komisioner KPK Chusnul Mariyah, Aktivis Hatta Taliwang, mantan Sekum FPI yang juga praktisi hukum Munarman, Ketua Umim.Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) KH Shobri Lubis, dan lain-lain.
Pertemuan itu diberi tema "Menjaga Semangat Persaudaraan dan Kebangkitan Nasional Untuk Perjuangan Masa Depan Indonesia".
"(Kami menyelenggarakan acara ini) karena ingin memberikan suatu kontribusi kepada saudara-saudara di Tanah Air, karena belakangan ini kita melihat banyak sekali hal yang terjadi, dan kita juga melihat seperti ada diversifikasi (di antara tokoh-tokoh), terlalu banyak cabang, dan kami merasa terpanggil untuk mencoba mendudukkan mereka bersama," kata Ketua Umum FTA Tata Kesantra di sela-sela acara.
Diakui, FTA tidak bermaksud mempersatukan para tokoh itu karena para tokoh itu kemungkin lan punya platform masing-masing, sehingga susah.
"Jadi, yang kita lakukan adalah mendudukkan mereka bersama-sama, mereka ngomong, teman-teman diaspora juga ngomong, mereka menanggapinya. Nah, ini akan menjadi bahan buat kita untuk menentukan langkah-langkah apa yang akan kita ambil ke depannya dalam perjuangan kita membela suara-suara rakyat, baik untuk kegiatannya maupun substansi yang diperjuangkan," imbuh Tata.
Menurut dia, dari apa yang disampaikan para tokoh yang hadir, semuanya berharap untuk perjuangan ke depan ada satu langkah bersama karena itu yang saat ini tidak dipunyai bangsa Indonesia.
"Jadi, kita coba mewadahi dengan (kegiatan yang) pertama kali ini melakukan silaturahim agar mereka terbiasa dulu, sehingga mereka yang selama cuma dianggap sebagai si A, si B, kelompok A, kelompok B, mereka duduk dulu sama-sama, next insya Allah kita akan bikin yang lebih fokus kepada isunya," jelas Tata.
Ia menilai, dari respon para tokoh dan aktivis yang hadir dalam merespon apa yang disampaikan para diaspora, ada titik temu karena ada usulan yang dianggap bagus, tetapi juga ada pertanyaan apakah usulan itu bisa dilakukan?
"Nah, jawabannya adalah bahwa itu bisa dilakukan kalau kita bersama-sama," katanya.
Banyak hal menarik yang disampaikan para tokoh yang hadir. Gatot Nurmantyo misalnya, dia mengatakan mengapa selama ini tidak pernah menyinggung soal 9 Naga adalah karena menurut dia, yang bermasalah adalah yang memberi karpet merah kepada 9 Naga itu.
"Nah, siapa yang memberi karpet merah itu, itu yang harus kita kejar," katanya.
Sementara Tifauzia Tyassuma mengingatkan bahwa yang terjadi terhadap Indonesia saat ini adalah sebuah desain yang memang bertujuan untuk membuat Indonesia hilang dari peta dunia.
Dia bahkan menyebut soal pemimpin yang selama ini digembar-gemborkan sebagai orang cerdas, sebenarnya bodoh karena tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ia merujuk pada kasus Adolf Eichmann, orang yang disebut-sebut sebagai arsitek Holocaust yang cerdas, jenius dan luar biasa.
"Tapi setelah dipengadilankan, ketahuan kalau dia bodoh, karena pertanyaan yang diajukan kepada dia, dijawab dengan tidak nyambung," katanya.
Seperti diketahui, 9 Naga atau 9 orang Taipan di Indonesia disebut-sebut sebagai bagian dari oligarki yang berkuasa di belakang pemerintahan Joko Widodo alias Jokowi. Jokowi sendiri sempat dijuluki sebagai "presiden yang planga plongo" alias bodoh.
Namun, saat ini Jokowi memang dianggap sebagai orang yang cerdas dan ditakuti, sehingga para ketua partai, seperti Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, takluk dan menjadi pendukungnya.
Dari apa yang dipaparkan para tokoh yang hadir, terungkap kalau di tangan Jokowi dalam 10 tahun terakhir ini, Indonesia menjadi tidak baik-baik saja, bahkan ada yang menyebut bahwa Indonesia terancam dianeksasi China akibat kebijakan-kebijakan Jokowi, sehingga Prabowo Subianto, pemenang Pilpres 2024 yang baru akan dilantik pada Oktober 2024, sudah menemui Presiden China Xi Jinping. Konon, agar meneruskan semua legacy Jokowi.
FTA yang didirikan di New York pada 8 Februari 2020 merupakan gerakan pemikiran para aktivis (ekstra parlementer) para diaspora yang merasa terpanggil untuk memperbaiki ruang demokrasi agar bisa sesuai dan sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat di Indonesia yang didasari oleh semangat gotong royong dan kekeluargaan.
FTA merupakan forum nirlaba yang menjadi wadah bagi para diaspora yang peduli pada keadaan saudara sebangsa di Tanah Air. (rhm)


