Jakarta, Harian Umum - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bereaksi keras atas viralnya tagar Indonesia Gelap (#IndonesiaGelap) di media sosial.
Tagar ini awalnya dilambungkan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Bandang Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), dan diikuti netizen.
Pada Senin (17/2/2025), BEM SI bahkan menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, dengan mengusung tagar tersebut. Ribuan mahasiswa mengikuti aksi ini.
Tagar Indonesia gelap dilambungkan setelah dalam pidatonya di HUT Gerindra ke-17, Sabtu (15/2/2025), Prabowo memerikkan; "Hidup Jokowi!"
Teriakan ini langsung menuai kritik karena dianggap telah menghancurkan harapan rakyat bahwa pemerintahan Prabowo akan dapat menegakkan hukum dengan seadil-adilnya, sesuatu yang tak ada di era pemerintahan Joko Widodo alias Jokowi selama 10 tahun (2014-2024).
Salah satu parameter keberhasilan Prabowo dalam memenuhi harapan rakyat dalam aspek ini adalah mengadili Jokowi, yang tuntutannya telah bergema di mana-mana, bahkan dituliskan sejumlah orang di dinding-dinding di berbagai daerah, termasuk di Solo, daerah asal Jokowi.
Selain itu, rakyat juga kecewa atas kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang notabene merupakan orangnya Jokowi, karena melarang pengecer menjual gas 3Kg, sehingga terjadi kelangkaan gas melon itu. Bahkan di Tangerang Selatan, Banten, seorang penjual nasi uduk meninggal akibat kelelahan setelah menenteng dua tabung gas melon pergi pulang ke pangkalan gas melon yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya.
Tak hanya itu, mahasiswa juga kecewa oleh kebijakan efisiensi anggaran oleh Prabowo yang membuat alokasi anggaran untuk pendidikan ikut terpotong. Efisiensi ini terjadi karena APBN defisit, sementara ada utang jatuh tempo sekitar Rp800 triliun lebih yang harus dibayarkan.
Namun, Luhut menganggap tagar itu mengada-ada
"Kalau ada yang bilang itu Indonesia gelap, yang gelap, kau bukan Indonesia. Jadi, kita jangan terus mengeklaim sana-sini," katanya dalam acara The Economic Insights 2025 di Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Orang yang disebut-sebut memiliki peran penting dalam menjadikan Jokowi sebagai presiden dan menjaga dua periode pemerintahannya (2014-2024) itu menganggap, kondisi Indonesia masih cukup baik, meskipun sedang terjadi berbagai permasalahan.
Namun, kata dia, permasalahan itu banyak dialami oleh negara lain selain Indonesia. Salah satunya terkait isu kurangnya lapangan kerja sebagaimana yang juga terjadi di Amerika Serikat.
"Ada orang bilang; "Wah, di sini lapangan kerja kurang!", di mana yang lapangan kerja enggak kurang? Di Amerika juga bermasalah, di mana saja bermasalah," tegas Luhut.
Dia mengklaim pemerintah tidak tinggal diam ketika terjadi masalah kekurangan lapangan kerja. Pemerintah telah memberdayakan 300 orang generasi muda yang bekerja di Perum Peruri untuk mengelola GovTech.
Selain itu, sebut Luhut, Indonesia justru beruntung karena memiliki pasar yang besar dengan jumlah penduduk yang mencapai 282 juta jiwa per Semester I-2024. Diprediksi pada 2030 jumlah ini akan bertambah menjadi 300 juta jiwa.
"Jadi, kita harus lihat ini. Kita sebagai orang Indonesia harus bangga juga bahwa we are doing right gitu, we are doing so good so far," katanya lagi. (man)





