Teheran, Harian Umum - Sejak 1980 Amerika Serikat (AS) diduga merekayasa cuaca Iran, sehingga selama itu Iran mengalami kekeringan yang luar biasa dan Teheran, ibukota Iran, bahkan nyaris menjadi kota tak layak huni.
Soal rekayasa cuaca Iran ini diungkap netizen, khususnya di platform media sosial X, sehingga dalam beberapa hari terakhir soal rekayasa cuaca ini meramaikan jagat maya di tengah perang antara Iran melawan AS dan Israel.
"Cuaca di Turki, Irak, dan Iran telah berubah.
Bendungan terisi, sungai-sungai yang kering kembali hidup setelah sistem radar utama di wilayah tersebut hilang," kata @DailyNewsIran dikutip Minggu (26/4/2026).
"Setelah Iran menghancurkan puluhan radar AS dan Israel di wilayah tersebut, hujan terus turun. Hujan sebanyak ini belum pernah terjadi dalam beberapa dekade. Perang iklim melawan Iran seperti yang diperingatkan oleh mantan Presiden Iran Ahmadinayad terbukti benar," kata @MrImranPk.
Dari tangkapan layar sebuah berita yang dirilis The Telegraph pada 21 Maret 2011 dan di-upload @MrImranPk, diketahui kalau pada tahun itu Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah mempersoalkan hal itu.
"Mahmoud Ahmadinejad has accused Western countries of ploting to "cause drought" in Iran by using high tech equipment to drain the clouds of raindrops (Mahmoud Ahmadinejad menuduh negara-negara Barat bersekongkol untuk "menyebabkan kekeringan" di Iran dengan menggunakan peralatan berteknologi tinggi untuk mengeringkan awan dari tetesan air hujan)," demikian tertulis di tangkapan layar tersebut.
"IRAN MENGATAKAN AMERIKA TELAH TERLIBAT DALAM TERORISME CUACA," kata @MrImranPk lagi.
Ia mengutip pernyataan pakar air Iran bernama Mohsen Arbabian yang videonya ia sertakan bersama cuitannya.
“Israel dan AS memiliki kemampuan untuk menyebabkan kekeringan, mereka telah menggunakan perang cuaca selama 40 tahun," kata Arbabian.
Ia membeberkan data satelit yang menunjukkan awan yang datang dari Mediterania, yang seharusnya memasuki Iran tiba-tiba bergeser dari jalurnya.
"Saya tidak peduli berapa banyak orang yang mengatakan ini normal. Saya katakan ini tidak normal. Danau Urmia telah mengering," tegas Arbabian.
Dari cuitan pemilik akun @aprajitanetes diketahui kalau penghancuran radar meteorogi yang berfungsi untuk menghalau awan hujan di wilayah geografis Iran itu terjadi bersamaan dengan penghancuran radar rudal militer dan radar anti-pesawat yang berada di pangkalan radar AS di sekitar Teluk Persia, tepatnya di Erbil, Irak; dan Uni Emirat Arab.
"Pakar cuaca Amerika: 18 radar yang dihancurkan Iran di wilayah tersebut bukan hanya radar rudal militer dan anti-pesawat, tetapi beberapa di antaranya adalah radar meteorologi untuk menghalau awan hujan di wilayah geografis Iran. Setelah menargetkan dan menghancurkan sepenuhnya stasiun radar ini, yang berada di Erbil, Irak dan Uni Emirat Arab, mereka (Iran, red) membuka ruang bagi awan penghasil hujan dan cuaca yang menguntungkan untuk masuk ke Iran. Artinya, sejak tahun 1980, curah hujan di Iran sangat sedikit dan tidak ada salju, serta terjadi kekeringan," kata @aprajitanetes.
Akun @DailyNewsIran melaporkan, penghancuran radar-radar itu terjadi pada tanggal 11 Maret, sesuai tanggal posting cuitannya.
"Berita Terkini — Iran baru saja mengirim pesan teks massal ke Israel:
“Sistem radar AS terakhir di wilayah ini telah dihancurkan. Para pemimpin pemerintah Anda berbohong kepada Anda. Tinggalkan negara ini. Rudal sedang dalam perjalanan. Tidak ada tempat perlindungan yang dapat memberikan keselamatan. — Garda Revolusi Islam”," kata akun itu.
Dari video berdurasi 12 menit yang diposting @DailyNewsIran diketahui bagaiman radar meteorogi itu bekerja untuk menciptakan kekeringan di Iran.
"Sistem radar AS memancarkan energi untuk mengionisasi atmosfer guna mengarahkan awan menjauh dari Iran," kata narator dalam video itu
Si narator menyebut bahwa apa yang dilakukan AS terhadap Iran hanyalah rekayasa geoteknik klasik, sehingga setelah radar-radar itu dihancurkan Iran dengan drone, hujan dapat kembali turun di Iran, bahkan dengan intensitas yang tinggi dan memecahkan rekor.
"Padahal pemerintah Iran hampir mempertimbangkan untuk mengevakuasi sebagian besar warganya dari Teheran, kota dengan 9-10 juta penduduk, tapi sekarang mereka punya banyak air, meski infrastrukturnya sebagian telah hancur akibat dibom Amerika," kata narator itu lagi
Irak dan Turki terdampak
Dihancurkannya radar-radar meteorologi AS oleh Iran tak hanya membuat Iran kembali mengalami hujan dan turunnya salju, tapi juga membuat Irak dan Turki terdampak.
"Sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di 3 negara dan Timur Tengah kini mulai menyadari bahaya keberadaan pangkalan AS di negara mereka," kata @Kyra_Mohsin.
"Setelah Iran menghancurkan pangkalan radar AS dan banyak pangkalan lainnya di Timur Tengah, berikut beberapa hal luar biasa yang terjadi saat ini di negara-negara tersebut dan banyak yang berterima kasih kepada Iran," imbuhnya
Ia mengungkap data-data ini:
1. Bendungan Turki yang telah membunyikan alarm merah selama hampir 15 tahun, mulai terisi air.
2. Bendungan Iran yang telah membunyikan alarm merah selama lebih dari 30 tahun, mulai terisi air.
3. Bendungan Irak yang telah membunyikan alarm merah selama seperempat abad, mulai terisi air.
4. Sungai Eufrat dan Tigris mulai meluap.
"Danau-danau yang mengering akibat kekeringan, kembali hidup. Makhluk-makhluk yang hilang mulai kembali. Dan alasannya adalah radar dan pangkalan yang dihancurkan Iran," pungkasnya.
'Sungai-sungai besar di Iran benar-benar kering sebelum perang, tetapi sekarang penuh kembali. Apa alasannya? Rekayasa Cuaca," kata @DailyNewsIran.
(man)





