Jakarta, Harian Umum -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, NTT telah diguncang 1.624 gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo 1,3 hingga 6,2 setelah guncangan gempa dengan magnitudo 7,7 pada Sabtu (16/8/2026) pagi.
Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo di atas 5 tercatat sebanyy 23 kaki, sementara gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 59.
Gempa dengan magnitudo 5 terakhir terjadi pada Senin (17/8/2026) pukul 14:20 WIB dengan episentrum di 7.84 LS -120.52 BT dari kedalaman 10 kilometer
Episentrum gempa yang tidak berpotensi tsunami ini berada di laut 86 kilometer timur laut Ruteng-Manggarai. Namun, guncangannya dirasakan di Kabupaten Ende dalam skala III MMI.
Terakhir, gempa terjadi pada Senin (17/8/2926) pukul 17:13 WIB dengan magnitudo 2,7. Gempa yang tidak dirasakan ini berpusat di 7.83 LS -;120.39 BT dari kedalaman 16 kilometer. Episentrum gempa ini berada 87 kilometer BaratLaut Ruteng, NTT.
Sebelumnya, Sabtu (15/8/2027), Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa M7,7 di Flores, NTT, disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, akan tetapi hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan bahwa gempa bumi ini hanya memicu tsunami minor di 16 lokasi dalam empat provinsi, yaitu di NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Tsunami tertinggi tercatat terjadi di Pota, Manggarai Timur, NTT pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 1,6 meter, dan terendah di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.
Tsunami minor itu tidak berbahaya, sehingga 2 jam setelah gempa M7,7 itu, BMKG mencabut peringatan dini tsunami tersebut.
Jumlah korban
Hingga Senin (17/8/2026) pukul 15.00 Wita, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat total korban jiwa gempa M7,7 Flores menewaskan 55 orang, sementara yang luka sebanyak 132 orang.
Wilayah terdampak, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, hingga Maumere di mana rumah-rumah dan bangunan mengalami kerusakan ringan hingga berat.
"Kami terus berupaya memastikan operasi pencarian dan pertolongan berjalan maksimal untuk membantu masyarakat yang terdampak,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii. (man)







