Jakarta, Harian Umum - Program Lapor Mas Wapres yang diluncurkan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menuai polemik karena menuai pro kontra. Meskipun melalui program itu warga bisa melaporkan secara langsung permasalahannya kepada Gibran melalui Posko Pengaduan di Istana Wapres pada Senin - Jumat pukul 08.00-14.00 WIB.
Atau warga bisa juga mengadu melalui nomor WhatsApp 08111-704-2207.
Semua laporan yang masuk akan dikelola dan dipelajari oleh Sekretariat Wakil Presiden Sapto Harjono untuk kemudian dikoordinasikan lebih lanjut dengan kementerian/lembaga hingga Pemda terkait yang membawahi permasalahan yang diadukan.
Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, mengatakan, program Gibran ini patut diakui sebagai sebuah terobosan yang berhasil mencuri perhatian publik luas.
"Yang pertama kita perlu apresiasi dulu, karena ini terobosan untuk bisa menampung keluhan atau masalah dari masyarakat," katanya seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (14/11/2024).
Namun, kata Karyono, program 'Lapor Mas Wapres' itu bisa jadi gimik semata jika tak ada solusi atau penyelesaian atas laporan yang disampaikan warga. Apalagi karena proses untuk mencari solusi atau penyelesaian dari masalah yang dilaporkan warga lewat 'Lapor Mas Wapres' juga tak akan mudah.
Sebab, Gibran mesti harus berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk, berkoordinasi dengan Prabowo selaku presiden.
"Saya kira eksekusinya juga tidak mudah, karena harus berkoordinasi dengan banyak kementerian. Gibran juga harus berkoordinasi dengan presiden jika itu menyangkut masalah kebijakan," katanya.
Meski demikian, Karyono mengatakan, paling tidak dalam 100 hari kerja pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran, akan terlihat bagaimana efektivitas dari program tersebut.
"Karena kalau hanya jadi sekadar menampung laporan saya kira tidak efektif juga," ujarnya.
Sementara pengamat politik Universitas Andalas Asrinaldi menilai, perlu ada evaluasi dari publik terkait pelaksanaan program 'Lapor Mas Wapres' tersebut untuk memastikan apakah program tersebut benar dijalankan dengan baik dan efektif memecahkan masalah warga.
"Ini ada harus evaluasi paling tidak selama enam bulan sampai setahun ke depan, evaluasi dari kelompok masyarakat sipil atau publik," katanya.
Namun, Asrinaldi mengatakan bahwa program 'Lapor Mas Wapres' ini bisa menjadi salah satu upaya Gibran untuk membentuk citra positif di mata masyarakat mengingat selama ini sosok Gibran oleh sejumlah pihak dianggap tak layak dan tak mumpuni untuk duduk di kursi Wapres.
"Mungkin bisa jadi ini juga untuk membuat citra di hadapan publik," katanya..
Hal yang sama juga dikatakan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago. Ia mengatakan, ada kemungkinan Gibran ingin membentuk citra dekat dengan masyarakat lewat program tersebut sebagaimana bapaknya yang merupakan Presiden RI ke-7, yakni Joko Widodo yang dekat dengan masyarakat dan kerap turun langsung bertemu dengan masyarakat.
"Bisa jadi Gibran ingin menunjukkan bahwa dirinya ini dekat dengan masyarakat," ucap Arifki.
Selain itu, kata Arifki, lewat program 'Lapor Mas Wapres' itu Gibran juga ingin menunjukkan dirinya berbeda dengan deretan Wapres sebelumnya.
"Mungkin Gibran ingin membedakan dirinya dengan wapres-wapres sebelumnya, makanya dia membuat terobosan lewat program itu," katanya. (man)





