MEREKA TERHUBUNG dalam garis imajiner kekuasaan yang penuh penipuan, pemalsuan, dan kemunafikan. Pengelolaan negara yang membuat rakyat kehilangan harapan membuat mereka menjadi sasaran empuk pemakzulan.
--------------------------------
Oleh: M. Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Mahasiswa mulai gerah dengan ulah dan kerja pemerintah. Prabowo-Gibran satu kesatuan. Serangan pada keduanya merupakan bukti obyektivitas gerakan menghindari isu kepentingan pragmatis dan politis. Jika teriakan hanya turunkan Prabowo, maka penilaian bahwa target menaikkan Gibran sebagai presiden menjadi hal yang wajar. Namun, aksi mahasiswa bagus karena berfokus pada kegagalan atau rapor buruk kedua pimpinan negara itu.
Lima tuntutan sebagai awalan aksi berkelanjutan adalah isu publik yang strategis, baik stop pemborosan anggaran, hentikan MBG dan KMP, turunkan harga BBM, penggerusan kedaulatan sipil, maupun pengakuan dosa politik. Tidak mudah bagi pemerintahan Prabowo-Gibran memenuhi tuntutan tersebut. Artinya, aksi dapat berlanjut. Jika terjadi masif di berbagai daerah, maka akan ada satu tuntutan yang seragam, yaitu mundur atau makzulkan Prabowo-Gibran.
Gerakan rakyat, khususnya mahasiswa, lebih tertarik pada kritik dan perlawanan terarah pada inti kekuasaan. Sebesar apapun dosa politik mantan Presiden Jokowi, tetap saja tidak menjadi magnet, begitu juga dengan sejuta cacat Gibran tidak akan menjadi sasaran. Penyelesaian komprehensif dan menarik adalah paket Prabowo Gibran. Di samping produk pemilihan yang tidak halal, juga Prabowo dan Gibran dibawah bayang-bayang Jokowi adalah satu kesatuan yang saling melilit dan membelit.
Jokowi, Prabowo, dan Gibran adalah segitiga bermuda yang membahayakan bangsa. Indonesia hilang dan tenggelam di zona segitiga titik ketiga orang ini. Mereka terhubung dalam garis imajiner kekuasaan yang penuh penipuan, pemalsuan, dan kemunafikan. Pada kondisi ketidakmampuan mengelola negara di mana rakyat semakin miskin dan tidak berdaya, maka mendobrak pusat kekuasaan merupakan konsekuensi dari arah gerakan.
Aksi mahasiswa serta aksi lain di 33 titik Jakarta dalam hari yang sama pada jum'at 12 Juni 2026 menggambarkan situasi memang gawat. Pemerintahan Prabowo-Gibran semakin kehilangan harapan dan kepercayaan. Rakyat mulai muak. Kabinet gemuk, korupsi gemuk, frekuensi kunjungan luar negeri gemuk, serta program-program gemuk lainnya. Meski sembunyi dalam transparansi dan sarat manipulasi, namun kegemukan itu menjadi sebab bagi sasaran empuk.
Prabowo-Gibran empuk untuk dimakzulkan meski baru berusia jabatan 20 bulan, akan tetapi mengingat pasangan ini sebagai perwujudan dari kelanjutan kekuasaan Jokowi, maka kekuasaan Prabowo-Gibran mutatis mutandis 10 tahun 20 bulan. Artinya, cukup waktu bagi pemakzulan tersebut. Mekanisme sangat digantungkan pada tingkat kemasifan gerakan rakyat.
Prabowo-Gibran sesungguhnya kini berada dalam keadaan sulit untuk menyelamatkan diri dari kejaran atau perburuan rakyat. Posisinya telah terkunci sebagai sasaran empuk. Satu-satunya jalan penyelamatan adalah mendengar, melihat, serta berpihak 100 persen kepada aspirasi dan kehendak rakyat.
Bukan berjoget-joget di atas panggung dan punggung penderitaan rakyat. Hidup mewah di tengah kemiskinan yang bertambah parah.(*)







