INDONESIA sedang mengalami masalah besar dan rumit. Di satu sisi pemimpin cenderung "batu" dengan tembok tebal di sekitarnya, di sisi lain para wakilnya berjalan menyelisihi keinginan, kebutuhan dan kepentingan rakyat.
----------------------------
Oleh: Zulkifli S. Ekomei
Aktivis Kebangsaan
Ada sebagian rakyat yang merapat ke tengah pusaran kekuasaan dengan berbagai motif. Ada yang bermotif ingin menjadi pejabat, ada yang bermotif meningkatkan taraf hidup diri dan keluarganya, dan ada pula motif-motif lain yang sudah menjadi rahasia umum.
Kita melihat ada tokoh buruh yang diangkat menjadi penasihat Presiden. Padahal, ia seharusnya memahami bahwa Presiden yang selama ini sering dikritiknya tidak mudah lagi dinasihati. Pada akhirnya, posisi tersebut berpotensi menjadi pekerjaan yang sia-sia apabila nasihat yang diberikan tidak pernah benar-benar didengar.
Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa banyak pejabat mengalami kesulitan untuk menghadap Presiden karena akses yang semakin terbatas. Padahal, banyak persoalan yang harus dilaporkan dan banyak kondisi rakyat yang perlu segera mendapat perhatian. Jika para pejabat saja mengalami kesulitan menyampaikan laporan secara langsung, lalu bagaimana suara rakyat dapat sampai kepada pemegang kekuasaan?
Sementara itu, tidak banyak terdengar suara dari wakil rakyat yang seharusnya menjadi penyalur aspirasi masyarakat yang mereka wakili. Bahkan tidak sedikit keputusan yang justru terkesan memperkuat keinginan Presiden dan jajarannya. Akibatnya, lembaga yang seharusnya menjadi pengawas kekuasaan terlihat lebih banyak melegitimasi kebijakan yang sesungguhnya mendapat penolakan dari sebagian rakyat.
Pernah terjadi ketika rakyat marah terhadap mereka yang melakukan tindakan dan perilaku yang menyakitkan hati masyarakat. Untuk meredam kemarahan tersebut, mereka hanya diskors sementara. Namun, setelah situasi dianggap mereda, mereka kembali menduduki jabatannya sebagai wakil rakyat.
Yang lebih mengecewakan, setelah kembali ke posisinya, tidak terlihat perubahan sikap maupun perilaku. Tidak ada suara yang senada dengan suara rakyat yang mereka wakili. Bahkan, dalam banyak kesempatan, mereka justru terlihat lebih sibuk membela dan menyenangkan penguasa daripada memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Karena itu, sudah saatnya rakyat bergerak dan tidak lagi menggantungkan seluruh harapannya kepada para wakil rakyat. Rakyat harus kembali aktif menyuarakan kepentingannya sendiri, mengawasi jalannya pemerintahan, serta mengingatkan para pemegang kekuasaan bahwa mandat yang mereka pegang berasal dari rakyat.
Perlu ditegaskan bahwa rakyat pinggiran adalah mereka yang tidak berada di tengah pusaran kekuasaan. Mereka bukan bagian dari lingkaran elite, bukan pula mereka yang berharap hidup dari fasilitas kekuasaan. Mereka adalah rakyat biasa yang selama ini bekerja, membayar pajak, dan menopang negara dengan keringatnya sendiri, tetapi sering kali justru menjadi pihak yang paling jauh dari pusat pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, sejarah selalu menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari mereka yang nyaman berada di sekitar kekuasaan. Perubahan justru lahir dari rakyat biasa yang tetap menjaga keberanian untuk menyuarakan kebenaran ketika banyak orang memilih diam.(*)







