Jakarta, Harian Umum- Kecurigaan adanya kecurangan secara massif, terstruktur dan sistematis yang dilakukan pasangan calon (Paslon) nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin guna memenangi Pilpres 2019, rupanya telah menarik perhatian pemantau Pemilu internasional.
"Beberapa pemantau Pemilu internasional akan mengawasi. Yang sudah confirm dari Filipina dan Korsel," kata mantan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief, Selasa (19/3/2019), melalui akun Twitter-nya, @AndiArief_.
Kecurigaan tentang adanya kecurangan yang dilakukan Paslon nomor urut 01 itu dikeluhkan para pendukung Paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandi yang melihat bahwa untuk dapat berkuasa lagi, Paslon 01 tak segan-segan menggunakan fasilitas negara, uang negara dan mengerahkan ASN serta pejabat negara.
KPU dan Bawaslu pun dinilai tidak independen karena diam saja melihat semua pelanggaran itu.
"Legitimasi Pemilu makin defisit. Gejala kecurangan makin kentara. Saya kira penting lembaga pemantau independen internasional ikut mengawasi. Demi tansparansi demokrasi," kata pengamat politik dan budaya Rocky Gerung melalui akun Twitter-nya, @rockygerung.
Tak hanya Rocky, para pendukung Prabowo-Sandi bahkan sejak Minggu (17/3/2019) menggaungkan tagar #INACalling4IntElectionObservers dan sempat masuk trending topics Indonesia dan dunia.
Indikasi kecurangan paslon 01 dan ketidaknetralan KPU serta Bawaslu yang diungkap pendukung 02 di antaranya penyelenggaraan Apel Kebangsaan oleh Pemprov Jateng yang menggunakan dana APBD hingga Rp18 miliar; adanya deklarasi dukungan untuk Paslon 01 dari pejabat negara seperti gubernur/bupati/walikota yang tidak ditindak KPU maupun Bawaslu; ditemukannya 17,5 juta data bermasalah dalam DPT; dan diamnya KPU maupun Bawaslu meski Presiden Jokowi tidak cuti untuk kampanye. (rhm)







