KASUS SUSANAH si Pengupas Bawang diduga bagian dari desain untuk mendelegitimasi Prabowo dan mengacaukan situasi.
------------------------
Oleh: Muslim Arbi
Pengamat
Nama Susanah, warga Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendadak terkenal setelah disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai pengupas bawang dengan upah Rp700.000/Kg.
Penyebutan itu dilakukan Prabowo saat menyampaikan pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026 yang lalu.
"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Dia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upa Rp700 ribu per kilogram," katanya.
Publik langsung heboh. Terlebih setelah kemudian terungkap bahwa Susanah bukan pengupas bawang, melainkan penjahit kain majun alias kain perca dengan upah hanya Rp700/Kg. Meme dan komen nyinyir terhadap Prabowo pun bertebaran di berbagai media sosial, termasuk Instagram. Tak sedikit yang menertawakan Prabowo, bahkan ada beberapa tulisan yang menyebut Presiden RI ke-8 itu sakit jiwa dan tidak pantas menjadi presiden.
Sebelumnya, Prabowo juga menjadi bulan-bulan karena dalam pidatonya saat Harlah PKB, dia melontarkan istilah Londo Ireng, dan kata dia, Londo Ireng itu ada yang berbaju jurnalis dan LSM.
Meski apa yang dikatakan Prabowo tidak sepenuhnya salah, apalagi kalau kita merujuk pada peristiwa besar berupa amandemen UUD 1945 pada tahun 1999-2002, organisasi sekelas Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pun meminta Prabowo meminta maaf.
Ketika saya podcast dengan seorang youtuber pada 3 Agustus 2026 lalu di sebuah resto di Kota Bogor, Jawa Barat, saya mendapat info dari Youtuber tersebut.
Dia bilang: "Bang Nanti ada skenario untuk menjatuhkan Prabowo saat pidato di bulan Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Dibuat pidato yang dibaca Prabowo akan bikin rakyat marah, sehingga rakyat akan ramai-ramai turun ke jalan untuk memprotes Presiden. Bahkan saat itu. Presiden akan di paksa turun karena rakyat sudah tidak percaya lagi".
Kalau dilihat dari kasus Susanah sang Pengupas Bawang, bisa jadi info soal rencana Agustus itu benar. Apalagi karena setelah peringatan 17 Agustus, Aceh dan Papua bergejolak, dan sehari setelah peringatan 17 Agustus di Istana, mahasiswa berjaket kuning demo di Jakarta.
Nah, dari pidato Presiden tentang Susanah dan Londo Ireng, apakah ini bisa dianggap sebagai bagian dari skenario untuk mendelegitimasi Presiden Prabowo, yang kemudian akan di susul dengan kemarahan rakyat dan juga mahasiswa seperti 1998?
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sudah memberikan klarifikasi untuk meluruskan pidato Presiden soal Susanah. Kata Komdigi, yang benar pendapat Susanah Rp700/kg dari mengupas bawang.
Apakah sudah demikian takutakah para Londo Ireng di negeri ini terhadap Prabowo, sehingga berbagai desain murahan dilakukan untuk mendelegitimasi Beliau dari kursi presiden?
Nampaknya beberapa kekuatan destruktif yang sering disinyalir beberapa tokoh belakangan ini, sangat panik dan ketakutan jika Presiden Prabowo semakin menunjukkan pencapain kerja pemerintahan dalam 2 tahun ini. Para Konglo Hitam ketakutan, juga Geng Solo dan antek-anteknya, sehingga berbagai desain norak dan murahan pun dipaksakan untuk dilakukan.
Bagi yang berakal sehat dan waras, semakin geli menyaksikan drama segelintir orang-orang itu.
Mengapa mereka tidak membuat gerakan yang cerdas?. Jika memang mencintai bangsa ini, mengapa kegaduhan melulu yang diproduksi? Apa kalian tidak capai?
Tepian Kali Brantas
20 Agustus 2026.







